Menjadi Doktor

Menuliskan ini teringat bahwa dulu ada iklan dari susu Boneeto bahwa bagi siapa yang mengirim bungkus susu boneeto, akan berkesempatan jalan-jalan ke Eropa apabila beruntung. Saya ingat sekali. Saat itu saya masih TK dan tinggal di rumah kontrak di selatan rel kereta. Ternyata 21 tahun kemudian saya ada di Jerman. Siapa yang menyangka.

Memulai perjalan PhD ini ternyata sangat pahit. The first 3 months is a total disaster. Saat itu saya yang baru saja menikah 1.5 bulan dan harus merasakan LDM. Selisih waktu 6 jam terasa sangat menyiksa karena ketika di Jerman jam 6 sore, di Indonesia sudah pukul 12 malam, yang artinya tidak ada yang bisa ditelepon. Sepi yang menyeruak di rongga hati sangat menyiksa. Praktis saya hidup di kamar kotak ukuran 19 sqm dengan sepi dan kesendirian. Istri saya yang paling tahu berapa kali saya menangis di rentang waktu 3 bulan tersebut. Masalah demi masalah datang bertubi-tubi mulai dari administrasi hingga masalah riset.

Dulu saya benar-benar tidak mengerti kenapa setiap eksperimen selalu gagal. Padahal pengalaman riset saya di Taiwan sudah sangat tinggi. Saat di Taiwan, mungkin sudah 500 an baterai pernah saya buat. Namun di sini, direntang waktu 3 bulan tersebut, hampir sebagian besar baterai yang saya buat gagal.

Saya ingat-ingat lagi kaidah hidup bahwa seringkali kita terjebak dan tersesat bukan karena kita tak tahu rute jalan yang mana yang harus kita tempuh. Tapi karena kegelapan membuat kita kesulitan mengenali jalan yang kita tempuh.

Waktu berlalu dan saya menyesuaikan dengan keadaan, toh manusia diberi kemampuan beradaptasi untuk bertahan hidup. Saya sadar saat itu saya kesulitan mengenali rintangan. Karenanya saya bercerita ke pembimbing dan kolega. Meski terseok-seok di awal, pada akhirnya pelangi muncul juga setelah lebatnya hujan.

26 Juni 2023.

Tanggal tersebut menjadi salah satu sejarah hidup yang akan selalu saya ingat. Setelah menjalani PhD selama 2 tahun 3 bulan, akhirnya saya berhasil mendapatkan gelar Dr. rer. nat. Saya harus banyak bersyukur karena berhasil menyelesaikan PhD dalam waktu singkat dan diumur yang relatif muda (26 tahun). 4 paper sebagai penulis pertama di jurnal yang (sangat) top dan H-index 6 di google scholar juga menjadikan prestasi tersendiri.

Apabila ada yang bertanya bagaimana bisa? Saya juga tidak tahu. Sayapun tidak bisa menuliskan lebih panjang lagi. Begitu banyak kesan dan cerita, namun begitu susah untuk diilustrasikan dengan kata-kata.

Di tulis saat perjalanan Münster ke Dresden

Leave a Comment