Butuh waktu yang nggak sebentar bagi saya untuk meyakinkan diri. Tiga tahun lalu setelah lulus master, ketika dilanda kecemasan dan kekhawatiran juga rasa frustasi akibat banyaknya penolakan, saya mencurahkan kegundahan hati ke kolega lab yang sudah saya anggap sebagai mentor dan guru kehidupan.
“Gimana ya pak, saya kok khawatir kalau daftar S3 dan nanti setelah lulus menghadapi kejadian seperti ini yang berulang lagi?”
Saya lupa jawaban pastinya, tapi intinya kita pasti akan ditemukan di persimpangan-persimpangan. “Pasti nanti setelah lulus S3 juga akan menghadapi kejadian yang mirip seperti ini lagi, Gy. Tapi kamu hadapi dengan sabar, insyaAllah ada jawabannya.”
Kalau dipikir-pikir jawabannya standar. Tapi ternyata ketika hidup sedang di titik yang rendah kita hanya butuh kalimat positif agar kita memahami bahwa pikiran yang berkelamut haruslah tidak untuk dipelihara.
Menengok lagi hari-hari kebelakang, saat ini kami sedang sibuk packing barang-barang untuk pindah ke kota lain, tepatnya di Dresden.
Studi saya sudah hampir selesai. Kalau lancar dan sesuai rencana berarti 2 tahun 2 bulan. Pun sudah mendapat kepastian kerja dengan kontrak permanen. Ditawari blue card oleh Jerman. Akan menempati apartemen yang lebih layak untuk Haffa.
Kemudahan dari Allah yang dirasakan bertambah manis karena pernah merasakan yang lebih pahit saat dulu-dulu. Dulu di asrama hidup dengan “stranger” di satu kamar 20 m2 untuk 4 orang. Sekarang 33 m2 dengan 2 kamar dan dapur untuk keluarga. Di tempat yang baru luasnya 80 m2. Alhamdulillah.
Sebenarnya ya tetep manusiawi untuk khawatir. Tahun lalu pun masih sempat risau ke Tyas “gimana ya setelah lulus?” Ternyata semakin bertambah umur memang getirnya nggak sedikit. Akal dan perasaan kita udah merasakan banyak hal sehingga banyak kejadian yang membuat kita sedih.
Tapi selain itu, kita juga mulai memahami mana yang sifatnya sementara, mana yang menetap agak lama. Di situ kita belajar kata ridho, ikhlas, sekaligus belajar mencintai dengan baik.
Jadi, di waktu yang singkat ini, lakukan hal-hal yang menurut kita baik. Selebihnya, pasrahkan semua sama Allah. Banyak hal yang harus disyukuri.
“Hiduplah dengan baik, makan yang cukup, tunaikan semua amanah dengan baik, jangan memendam rasa marah kepada sesama manusia, buatlah kebahagiaan kecil di keluarga, saudara, dan tetangga. Suatu saat kita pasti berpulang, pulanglah dengan hati yang tenang.”
Münster, 19 Februari 2023