Mengalami 3 wisuda di 3 negara berbeda ternyata memberikan pengalaman berbeda. Tulisan ini adalah rangkuman gambaran wisuda di Indonesia, Taiwan dan Jerman. Tentu bukan membandingkan mana yang lebih baik mana yang lebih kurang, tapi saya pikir akan sangat menarik untuk mengetahui ternyata prosesi wisuda ini sangat diperngaruhi oleh budaya.

Indonesia

Wisuda di Indonesia terasa sangat teratur, bahkan ada gladinya. Semua rangkaian acara diatur sedemikian rupa mulai dari posisi tempat duduk hingga pemberian ijazah. Tak lupa juga dengan serangkaian sambutan serta hymne universitas. Hampir sebagian guru besar ikut acara ini dan duduk di panggung utama menggunakan toga kebesarannya. Para wisudawan pun menggunakan toga dan biasanya wisudawati tampil all out dengan make up yang prima.

Taiwan

Saya mengalami wisuda di Taiwan karena saya menyelesaikan studi master saya di National Chiao Tung University. Yang unik atau bahkan aneh adalah, wisuda di Taiwan dilaksanakan sebelum sidang> Artinya, saat pelaksanaan wisuda kita belum tahu bakal lulus atau tidak. Maka dari itu jarang para wisudawan ini upload foto saat hari H. Kebanyakan mereka upload foto di hari setelah sidang. Jadi boleh dibilang bahwa pelaksanaan wisuda di Taiwan ini tidak sakral dan sifatnya opsional.

Jerman

Saat tulisan ini dibuat, baru 2 hari yang lalu saya mengalami wisuda ini. Wisuda ini penting agar secara legal para lulusan dapat menggunakan gelar Dr. rer. nat setelah di sumpah. Wisuda di Jerman cenderung bebas, tidak ada toga mewah seperti di US, UK, atau Taiwan. Susunan acara sangat simpel: sambutan dekan, presentasi dari salah satu profesor, diselingi musik sederahana, persentasi salah satu thesis oleh PhD graduate, presentasi 1 menit oleh semua PhD graduates, foto. Tempat duduk pun bebas, tidak ada kumpulan guru besar yang hadir seperti di Indonesia, dan waktunya pun relatif singkat 1-1.5 jam.

Nah, setelah acara selesai, ada tradisi yaitu kolega di grup riset menyiapkan odong² dan kami diarak menuju institut. Sebenarnya udah tau arahnya mau diguyur menggunakan hydrospray, but I had no other choices. The worst part is, I did not bring changes😅

Yang unik juga doktoral hut atau topi PhD. Topi ini dibuat oleh kolega-kolega grup riset di MEET. Isinya adalah foto kenangan yang ditempel. Desain atasnya tergantung karakter/hobi wisudawan. Topi yang teman-teman buat untuk saya desain atasnya adalah catur karena studi S3 saya terkenal 30% riset 70% main catur 🤣 (Kalau tidak percaya bisa tanya istri). Berikut adalah detail dan filosofinya:

  1. Papan dan bidak catur dengan posisi Ruy Lopez opening. Kolega di MEET paham kalau saya hobi catur. Segitu hobinya, bahkan Tyas pernah sampai marah-marah karena saya kebanyakan main catur #eh. Ruy lopez opening sendiri adalah salah satu teori opening yang sangat terkenal. Salah satu yang paling lama ditemukan dan salah satu favorit saya.
  2. Silicon target, yaitu salah satu bagian dari magnetron sputter device. Karena alatnya sudah tidak lagi berfungsi, jadi mereka memutuskan untuk menaruh Silicon target ini di topi. Saya beruntung karena ketika alatnya dipindah dan tidak berfungsi, praktis riset saya sudah selesai. FYI, harga Si target ini lumayan mahal yaitu sekitar 15 juta.
  3. The flash, filosofinya adalah bahwa saya menyelesaikan PhD dalam waktu yang sangat cepat yaitu sekitar 2 tahun 3 bulan. Mungkin ini yang tercepat dalam sejarah MEET.
  4. Cover pages, yaitu hasil visualisasi paper saya yang terbit di AEM dan AFM.
  5. Si wafer, karena riset saya berkaitan erat dengan Si wafer untuk mengkalibrasi ketebalan deposisi.
  6. Dendritic copper, yaitu current collector yang sering saya gunakan karena bila menggunakan jenis copper ini maka material yang terdeposit tidak mudah terlepas.
  7. Meja tenis, alasannya yaitu karena diwaktu senggang saya sering bermain tenis meja di social room di MEET. Ya dibanding anak-anak MEET tentu saya kelihatan jago #haha.
  8. XPS holder atau stub, yaitu salah satu part di XPS untuk menaruh sampel. Selama PhD, saya menjadi salah satu person in charge pengukuran XPS di grup material. Jadi siapapun yang membutuhkan karakterisasi XPS akan mendatangi saya dan mendiskusikan apakah sampel mereka cocok untuk XPS atau tidak.
  9. Ini yang cukup unik juga, Margareth. Beliau salah satu petinggi di ZSW dan saat itu menjadi moderator di konferensi yang saya hadiri. Saat itupun saya menjadi speaker dan ketika beliau mengenalkan diri saya, orang-orang di MEET langsung tersenyum karena logat bahasa Inggrisnya sangat unik “Ze next zpeaker is Edgy”

All in all, saya sangat berbahagia dan bersyukur atas segala yang terjadi, termasuk berkesempatan mengikuti 3 wisuda di 3 negara berbeda. Dan sekarang sudah bisa menggunakan gelar juga haha.

Until next time,

Dr. rer. nat. Egy Adhitama

Leave a comments