Beberapa kali di kesempatan mengisi acara, saya berpesan kalau kebetulan riset yang sedang dikerjakan audiens adalah riset di bidang baterai, maka selamat, karena bidang ini sedang menjadi primadona setidaknya untuk 20 tahun kedepan. Di Eropa khususnya Jerman pun demikian. Pusat riset baterai sangat terintegrasi dengan industri kendaraan listrik. Bahkan saat ini pun dibangun one melting plot agar setiap pengembangan bisa langsung dibuat komersilnya.
Di Indonesia pun sudah terlihat pergerakan. Beberapa waktu lalu saya menulis artikel yang dimuat di The Conversation Indonesia mengenai langkah Indonesia terhadap baterai sebagai komponen utama kendaraan listrik. Secara pribadi, saya pikir Indonesia ini larinya kencang tapi larinya di treadmill. Artinya tidak terlihat arah yang jelas dan terkesan banyak gimmick-nya.
Berbicara mengenai hal ini, pikiran saya melayang ke masa depan dan berandai-andai bilamana nanti setelah pendidikan S3 selesai dari MEET dan diminta pulang dengan kalimat kontribusi untuk Indonesia, kira-kira bagaimana jawaban saya ya.
Yang jelas saya tidak dibiayai oleh LPDP atau beasiswa lain yang mengharuskan pulang ke Indonesia baik untuk Master ataupun PhD. Jadi punya pilihan untuk menolak. Kalau ditodong dengan kalimat kontribusi untuk Indonesia, kira-kira jawaban saya seperti ini:
Menurut saya, kontribusi untuk Indonesia itu bukan tentang where you are, tapi what you do. Jadi kurang relevan bahwa untuk berkontribusi, seseorang harus pulang ke negaranya. Di Jerman sendiri, kami sebagai keluarga sangat nyaman dengan fasilitas yang ada mulai dari gaji, cuti, fasilitas riset di kantor, dan career development. Kalau saya kembalikan pertanyaannya, dengan keahlian yang saya miliki, bagaimana timbal balik yang ditawarkan mulai dari gaji, cuti, fasilitas riset, dan career development?
Egy Adhitama
Kira-kira begitu kali ya 😁
Münster, 25.11.2021
Leave a comments