Satu-satunya jalan atau memang pilihan?

Fase-fase PhD memang punya banyak cerita. Mungkin bagi yang sedang menempuh/sudah selesai PhD pasti tahu kalimat “publish or perish”, yang artinya mahasiswa PhD harus bisa mempublikasikan hasil temuannya di jurnal ilmiah meski harus sampai diperas keringatnya. Menuliskan ini, saya teringat perkataan teman, “kenapa kita pilih jalan ini ya (baca: S2/S3). Padahal kalau dari awal milih fokus jalan hidup yang lain pasti kemumetan akademik ini gak akan terjadi.”

Saya merenung. Mungkin benar, tapi juga debatable. Karena “by nature” manusia memang suka membandingkan. Banyak meme yang mengatakan bahwa PhD itu singkatan dari “permanent head damage”. Atau meme-meme lain yang mengejek dunia per-PhD-an. Contoh, meme yang mengatakan PhD sebenarnya underpaid job, atau meme yang menyentil tentang tampilan sebelum dan sesudah menjadi PhD student (dari necis menjadi lusuh).

Saya memaklumi karena pembuat meme ini boleh jadi kebanyakan adalah orang dari negara makmur yang tidak mengerti bahwa mengenyam pendidikan S2/S3 adalah, boleh dikata, satu-satunya harapan bagi kebanyakan mereka yang datang dari negara berkembang dan/atau negara konflik. Pola ini saya amati ada dan sama baik saat saya di Taiwan atau di Jerman. Dan saya yakin dapat dengan mudah diamati di negara “welfare state” lainnya.

Mundur kebelakang, mereka yang dari negara berkembang/konflik ini belajar mati-matian, berproses agar menjadi berlian, dengan motif sebisa mungkin pergi dari negara asalnya. Alasannya bermacam-macam: negara tidak aman, gaji kecil, tidak percaya pemerintah, atau alasan lain yang intinya kekecewaan pada negara. Akumulasi alasan-alasan menjadi motivasi yang kuat untuk pindah ke negara makmur. Dan agar dapat diterima di negara makmur ini, pendidikan adalah satu-satunya jalan.

Ambil contoh, temuilah mahasiswa dari Iran. Tanya apa rencana mereka setelah PhD. Saya yakin mereka ingin menetap di negara di mana mereka bersekolah / setidaknya tidak pulang ke negaranya. Bila tanya mahasiswa India dan Pakistan pun kemungkinan besar jawaban yang didapat akan sama. Karena, kalaupun benar bahwa PhD adalah underpaid job, tapi kondisi rekening mahasiswa PhD berkali-kali lipat lebih sehat daripada ketika bekerja di negara asal. Hal ini yang luput serta tidak dapat dirasakan orang barat. Karena startnya saja sudah berbeda.

Bagaimana Indonesia? Boleh jadi kecenderungannya sama yakni tidak sedikit yang memilih menetap dan enggan kembali karena sistem yang kacau.

Saya teringat tahun 2015 saat S1 semester 2. Saat itu, saya baru menyadari bahwa jumlah LPTK itu sangat banyak. 415 institusi yang terdiri dari 12 eks IKIP, 24 FKIP univ negeri, 1 FKIP UT, dan 378 LPTK swasta. Artinya, saya harus menerima kenyataan bahwa 1.3 juta mahasiswa FKIP lulus tiap tahun. Dibandingkan dengan jumlah lowongan PNS, rasionya tidak masuk akal. Implikasinya, pilihan yang sangat terbatas menjadikan sebagian besar dari lulusan ini rela digaji 300 ribu per bulan yang dibayarkan setiap 6 bulan untuk mengajar di sekolah. Sudah tentu, bagi pembuat kebijakan yang duduk di kantor dengan pendingin ruangan sambil minum teh, mereka tidak akan bisa merasakan bagaimana gusarnya 1.3 juta lulusan ini.

Pada akhirnya, bagi sebagian orang di dunia ini (saya termasuk di dalamnya), PhD boleh jadi adalah adalah satu-satunya jalan, atau paling tidak, adalah jalan terbaik dari pilihan yang ada. Tentu kekhawatiran seperti bagaimana untuk lulus PhD / bagaimana langkah lanjut setelah PhD pasti pernah terbersit. Semoga kita semua senantiasa dimudahkan dan diberi keberkahan dalam setiap urusan. Aamiin.

Münster, 23 Februari 2022

Leave a Comment