Memutuskan S2? Think again!

Langkah kehidupan bagi mereka yang lulus kuliah S1 memang menyimpan berjuta cerita. Pada persimpangan hidup ini, mereka tidak bisa lagi dikatakan muda, namun belum cukup matang untuk menghadapi kerasnya kehidupan. Bagi mereka yang berangkat dari kondisi yang beruntung, akan ada uluran orang tua yang membantu mereka melalui dinamika kehidupan. Namun bagi yang tidak, mereka dipaksa berjalan sendirian di hutan belantara kehidupan dan mencari alur ceritanya sendiri. Seringkali harus tergores duri dalam perjalanan, terjatuh dalam pencariannya.

Belakangan viral cuitan untuk menghindari keputusan mengambil studi lanjut (S2/S3) karena tidak tahu harus bagaimana selepas lulus S1. Sebagai seseorang yang melanjutkan S2 sampai S3 tanpa jeda, mungkin perspektif saya dapat memperluas cara pandang pembaca tulisan ini.

Tidak dapat dipungkiri, posisi pada persimpangan jalan pasca lulus S1 pasti hadir pada siapapun tanpa terkecuali. Perbedaannya adalah ada sebagian mereka yang telah mempersiapkannya, namun tidak sedikit yang tidak tahu bagaimana kedepannya.

Saat saya di Taiwan, saya pernah bertanya seperti apa bidang kerja untuk lulusan S1 kepada teman saya. Kebanyakan di Taiwan, mereka yang lulusan S1 kerja sebagai teknisi atau pekerjaan lain yang bersifat rutin (tidak perlu inovasi). Maka dari itu banyak yang ingin mengambil S2 agar bisa masuk ke level perekayasa untuk mendapat gaji yang lebih  tinggi. Hal in lumrah karena landscape industri di Taiwan memang sudah maju dan banyak menyerap lulusan S2/S3 untuk research and development. Untuk jenjang yang lebih tinggi yaitu S3, pilihan ini tidak cukup populer karena mereka merasa cukup dengan S2 dan menyadari bahwa tuntutan S3 sangat berbeda dengan S2.

Di Indonesia sendiri, industri yang ada masih berbasis manufaktur, produksi, dan perakitan. Maka dari itu, tenaga S1 masih menjadi favorit karena kegiatan tersebut butuh inovasi yang minimal. Selain itu perusahaan akan lebih memilih tenaga kerja yang dapat digaji lebih minimal pula. Maka bagi saya, untuk kondisi di Indonesia, kuliah S2/S3 bukan pilihan yang baik apabila hanya karena tidak tahu mau apa selepas kuliah S1, terlebih bila tidak memiliki rencana mau bagaimana selepas S2. Hal ini sangat riskan untuk terjatuh dalam lubang yang sama.

Lalu bagaimana? Kebimbangan pasca S1 yang terjadi, daripada memutuskan S2 tanpa arah yang jelas, lebih baik difokuskan untuk mencari jalan cerita hidup masing-masing. Waktu yang ada lebih baik diinvestasikan untuk trial and error daripada 2 tahun kuliah S2 sia-sia. Gagal dan jatuh bangun dalam kehidupan adalah hal yang niscaya. Tapi setidaknya sudah mencoba, dari pada tidak sama sekali.

Bagi saya, memutuskan kuliah S2/S3 itu dapat dipilih apabila memiliki minimal 1 diantara 2 alasan: 1. Menambah value untuk profesi yang ingin/sedang dijalani, 2. Suka dengan bidang ilmu yang digeluti. Apabila tidak menemukan salah satu hal tersebut, maka perlu dievaluasi lagi keinginan untuk studi lanjut.

Saya pilih kata “perlu dievaluasi” dan bukan “jangan”, artinya opini ini adalah hal yang subjektif untuk memperluas cara pandang saja. Saya juga tidak memungkiri bahwa boleh jadi ada jalan (bahkan terbuka lebih lebar) pasca S2 meski ditempuh karena tidak tahu mau bagaimana selepas S1. Yang dikhawatirkan tercermin bagian awal tulisan, adalah takutnya hanya menunda kebingungan dengan umur yang semakin bertambah.

Pada akhirnya kehidupan ini dinamis dan semoga kita senantiasa dimudahkan dalam menjalaninya. Aamiin.

Leave a Comment