Taiwan vs Jerman

Different continent different culture even for academic life

Saat piknik beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan mahasiswa dari China tentang bagaimana pengalaman dia studi Master di negara Tirai Bambu tersebut. Diskusi ini menjadi semakin menarik bagi saya pribadi karena ternyata kami memiliki pengalaman yang serupa.

“Pembimbing saya di China selalu mendorong saya sampai limit. Di Jerman ini saya rasa lebih santai” begitu kata dia.

Hampir 6 bulan di Jerman tapi saya sudah dapat melihat perbedaan lumayan kontras dari berbagai aspek. Tentu saja ini pengalaman saya pribadi dan bukan merupakan hal yang mutlak, karena setiap orang memiliki pengalaman berbeda-beda.

Perbedaan pertama adalah bagaimana cara memanggil Pak Bos.

Kala itu beberapa minggu setelah berkutat dengan administrasi Jerman yang super ribet akhirnya datang hari di mana saya bertemu dengan pembimbing untuk membahas topik PhD saya.Tentu saja saya sudah mempersiapkan pertemuan ini termasuk hal-hal kecil juga tak luput dari persiapan, seperti bagaimana saya harus memanggil nama beliau. Saat di Taiwan, seperti negara Asia kebanyakan, kami terbiasa memanggil dengan sebutan “Prof + nama keluarga”. Dengan panggilan tersebut, kesannya kami sangat hormat kepada pembimbing bahkan mungkin cenderung berlebihan.

Hari H saat pertemuan pertama dengan Pak Bos di Jerman datang juga. Karena saya tau dari senior bahwa beliau lebih nyaman dipanggil dengan nama langsung, mau tidak mau saya harus terbiasa. Canggung awalnya dan kalau lama-kelamaan dipikirkan malah bikin ngakak karena kurang ajar juga memanggil orang tua dengan nama depan langsung xD. Tapi ya itulah budaya, di tempat yang satu bisa “sangat wajar” dan di tempat yang lain bisa “sangat lancang”.

Perbedaan yang kedua adalah budaya kerja.

Perbedaan ini bikin saya terkaget-kaget. Terbiasa dengan ritme yang cepat saat di Taiwan yang membuat riset terakselarasi dengan baik, di Jerman saya merasa atmosfir risetnya lebih santai. Di Taiwan, bertemu dengan Pak Bos seperti minum obat, bisa sampai 3x sehari. Di Jerman, selama saya tidak minta bertemu ya tidak bakal bertemu. Hal ini sempat menjadikan riset saya tak tentu arah. Akhirnya saya minta untuk bisa bertemu setiap 2 pekan sekali. Sisi positif dari budaya kerja di Taiwan adalah risetnya menjadi sangat terarah, cepat, dan banyak. Sisi negatifnya adalah waktu istirahat yang sedikit dan bila sudah berkeluarga akan banyak waktu yang tersita. Sedangkan sisi positif budaya kerja di Jerman adalah waktunya lebih fleksibel sehingga tetap bisa beristirahat dengan optimal. Sisi negatifnya, karena risetnya lebih independen maka apabila kita termasuk orang yang tidak pandai mengatur strategi maka riset akan tersesat dan tak tau arah jalan pulang.

Perbedaan ketiga adalah pendekatan riset.

Yang terakhir ini mungkin debatable ya. Tapi kan namanya juga pengalaman pribadi. Di Taiwan, kerja keras adalah nomor satu. Sebuah kesimpulan riset sedapat mungkin adalah hasil sebenarnya tanpa ada spekulasi teori. Hasil yang dicoba terus menerus lebih terpercaya daripada hanya sekedar teori. Mungkin ini yang membuat budaya berkutat di lab sampai larut malam sangat mengakar. Di Jerman, bukan berarti kerja keras tidak penting tapi (keliatannya sih) kadarnya masih di bawah analisis dan teori sebelumnya.

Jadi lebih betah dimana?

Sangat subjektif dan masing-masing negara memiliki sisi positif dan negatif. Beberapa orang sudah bertanya pertanyaan di atas, dan saya selalu menjawab Jerman karena saya penganut work-life balance. Mungkin di Jerman belum 100% work-life balance, tapi saya merasa nyaman dan cocok.

Menuliskan ini saya ingat di kalimat di Twitter bahwa kesehatan itu nomor satu. Kalau tempat kerja kehilangan kamu, maka mereka akan sangat cepat untuk mendapatkan pengganti. Maka jagalah kesehatan dan manfaatkanlah waktu sebaik mungkin untuk keluarga. Kerja/rapat sampai malam bukan hal yang bijak, apalagi sekedar untuk memberi impresi yang baik ke atasan. Bagi saya itu tidak professional dan mengindikasikan buruknya pengaturan waktu.

Namun bagi orang yang lebih suka budaya kerja keras dengan tempo yang cepat dan banyak maka Taiwan salah satu negara yang sangat tepat. Universitas dan laboratorium akan selalu buka 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.

Satu alasan tambahan tapi tetap signifikan kenapa saya lebih nyaman di Jerman adalah kerja buruh dibayar gaji buruh, bukan kerja buruh dibayar gaji mahasiswa :D.

Sekali lagi, tulisan ini berdasarkan pengalaman/stereotype pribadi. Namun yang pasti, kedua negara tersebut menjadi negara maju meski dengan pendekatan yang berbeda. Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Mengapa kita seolah berjalan di tempat?

Mungkin jawabanya adalah karena nenek moyang kita adalah orang yang nrimo. Duduk dengan istri dipekarangan rumah sambil minum teh sudah sangat membahagiakan. Tidak perlu pusing-pusing mikirin riset baterai. Apalagi pusing mikirin bansos yang dikorupsi, keburu tehnya dingin nanti :D.

Leave a Comment