Memulai Perjalanan S3 di Jerman

Di antara berbagai alasan yang sering diucapkan adalah alasan menunggu siap. Namun pada akhirnya kita hanya akan tahu bahwa kita telah siap adalah saat sudah menyelesaikannya. Jauh sebelum itu, kita tak benar-benar siap.

Lama tidak menulis blog, bila memang ada yang membaca, saya mohon maaf karena 2 bulan belakangan sedang fase berat-beratnya. 1 Maret, 1.5 bulan setelah menikah, saya menginjakkan kaki di Bandara Internasional Frankfurt untuk memulai perjalanan kuliah S3 di MEET Battery Research Center, University of Münster, Jerman. Memutuskan untuk menikah kemudian menjalani hubungan jarak jauh ternyata sangat tidak mudah. Namun bukan itu fokus tulisan kali ini. Saya akan bercerita perjalanan mendapatkan tempat untuk studi S3.

Boleh dibilang perjalanan ini bukan perjalanan yang pendek. Seringkali disaat saya meragukan diri saya sendiri, ia memaksa saya untuk memutuskan. Ia memaksa saya untuk mencoba, disaat saya sendiri tidak yakin. Karena hidup tidak pernah memberi jeda. Ia tidak menunggu sampai kamu siap untuk memulai kembali.

Menginjak semester 3 saat kuliah S2, saya mulai berpikir setelah lulus mau bagaimana. Tawaran PhD dari Profesor saya tolak baik-baik karena ingin memiliki pengalaman kerja di industri. Kala itu tidak terlalu khawatir, karena lulusan NCTU terkenal sangat mudah mendapat pekerjaan di Taiwan. Lulusan Materials Science NCTU untuk diterima di TSMC sudah seperti air yang masuk ke kerongkongan lalu ke perut. Tanpa hambatan.

Ketika itu saya mengirim aplikasi ke Google Taiwan karena ada lowongan yang sesuai dengan kualifikasi saya. Gayung bersambut, saya mendapat panggilan wawancara via telpon. Sayangnya, ketidakseriusan saya menjadikan kesempatan ini melayang begitu saja. Berlanjut, saya mengirim aplikasi ke company lain. Ternyata masih mendapat penolakan. Ketiga, keempat, sampai kesepuluh ternyata masih ditolak. Mulai was-was. Berpikir apakah saya memang tidak pantas, tidak cukup memiliki skill, dan disusul pikiran-pikiran negatif lain yang bermunculan.

Saya menyadari, ternyata diumur yang hampir mencapai 25 mungkin kerjadian-kejadian inilah yang orang sebut quarter life crysis. Insecure dan merasa tidak pantas. Sampai pada akhirnya saya menemukan lifehacks:

Don’t think you deserve job? Apply for it anyways

Don’t think they’ll reply to your email? Send it anyways.

Don’t self-reject.

Anonym

Sampai aplikasi ke 30-an menjadikan saya terbiasa dengan penolakan. Anehnya tidak ada rasa kecewa sama sekali. Sebaliknya, malah pikiran positif yang muncul. Rejection does not define who you are. Your qualification just does not match with their criteria. It is not because you are not good enough.

Di linkedin saya mulai aktif menghubungi orang, walau mereka adalah orang yang tidak saya kenal dan tidak pernah bertemu. Saya kirim pesan menanyakan apakah ada lowongan. Beberapa membalas tapi kebanyakan hanya membaca.

Then I realized I am in the phase which I re-questioned my career decisions. What I actually want and what my passion is. I kept in faith, under whatever circumstances I am in, putting a step by step career decision progress is very important. At the end of the day, it took 243 applications rejected before I found one.

Memilih tempat PhD

Tips pertama dari saya adalah melihat track record pembimbing yang di bidang yang ingin kita tekuni. Dalam hal ini pemilihan universitas menjadi tidak relevan. Saya tanpa ragu mendaftar di tempat sekarang karena Profesor saya saat ini menjadi “bos” di salah satu tempat riset baterai terbaik di Eropa bahkan dunia. Pembimbing saya saat ini adalah renowned researcher di bidang baterai. Kebetulan saat itu ada job vacancy di mana dibuka kesempatan PhD untuk 12 orang di bawah timnya. Lansung saya apply. Lantas, apa saja informasi yang perlu diperhatikan dan diketahui?

Personal statement dan CV

Dua hal ini adalah langkah awal dan salah termasuk yang paling penting. Ibaratnya ini adalah senjata utama untuk menembus dinding pertama dari perjalanan S3. Saya ingat betul personal statement saya dikoreksi lebih dari 5 orang. Secara singkat isi dari personal statement ini adalah perkenalan singkat, pengalaman saat S1 dan S2 yang menunjang S3, termasuk pengalaman riset, kegiatan ilmiah. Alasan ketertarikan dengan bidang riset dan tempat yang dituju, serta tujuan akhir juga perlu dipaparkan. CV juga hal yang penting karena mereka membaca dengan cermat apa yang sudah kita tekuni, so jangan malas untuk update CV ya!

Beasiswa

Beberapa lembaga Jerman yang memberikan beasiswa pada studi S3 seperti DAAD, DFG, BMBF. Kalau dari Indonesia ada Dikti dan LPDP. Kalau saya dan kebanyakan mahasiswa S3 di Jerman mendapatkan supply dana dari gaji. Di Jerman, mahasiswa S3 sudah dianggap semi-professional. Sebtuannya Mitarbeiter atau scientific staff, sehingga kegiatan perkuliahan S3 kebanyakan diisi dengan penelitian. Di sini kami mendapat hak dan kewajiban yang sama dengan pegawai kampus, digaji dan membayar pajak.

Bahasa Inggris

Memiliki kemampuan aktif Bahasa Inggris, minimal understandable adalah hal yang wajib namun tidak perlu melampirkan bukti TOEFL IBT/IELTS (at least dikasus saya). Unik ya? Karena mereka bisa menilai kemampuan Bahasa Inggris saya ketika proses interview.

IPK

Indek Prestrasi Komulatif penting dan tidak penting karena ada Profesor lebih mengutamakan pada personal statement atau proposal riset pendaftar. Meskipun demikian, bukan berarti kita menganggap remeh soal IPK (Indeks Prestasi Kumulatif), namun IPK bagus tidak menjadi jaminan.

Interview

Kalau sudah sampai tahap ini, selamat! Artinya tinggal selangkah lagi. Di proses interview ini yang paling-paling-paling-paling kritis. Harus sebisa mungkin menarik perhatian interviewer dalam waktu yang singkat. Pengalamanku saat proses interview dibagi 2 sesi. Sesi pertama adalah round table dengan aplikan lain dari berbagai negara. Masing-masing kita diberi 10 menit untuk presentasi mengenai tesis S2 dihadapan 4 Profesor. Setelah itu sesi individu di mana ke 4 Profesor tersebut akan menanyai kita lebih dalam mengenai presentasi yang sudah diberikan, CV, personal statement, dll. Jadi mereka akan tahu kalau di CV itu real atau tidak, kalau tesis kita berkualitas atau tidak. Bahkan mereka menanyai kita tentang basic keilmuan yang kita miliki. Saat itu saya ditanya tentang ilmu dasar kimia, ilmu dasar baterai, dan ilmu dasar elektrokimia.

Berdoa

Yang kadang luput dan disepelekan adalah bahwa semua ikhtiar ketika sudah dilakukan maka setelahnya bukan jatah kita. Out of our control, maka yang bisa dilakukan adalah berdoa. 30 menit setelah interview ternyata salah satu examiner mengirim e-mail bahwa saya melakukan pekerjaan hebat dan sangat besar kemungkinan untuk diterima. WOW! Langsung loncat-loncat lah saya. Alhamdulillah.

Pada akhirnya, dorongan bisa datang dari mana saja, bisa juga sekuat-kuatnya, termasuk setelah kalian membaca tulisan ini. Tapi untuk melangkah, kamu tetap butuh kakimu sendiri 😊. I would be happy if there is anything I can help with.

Münster, 24 Mei 2021

Leave a Comment