Pencuci Piring

Sepeda tetap saya kayuh walau track menanjak dengan jarak kurang lebih 3 km. Angin malam yang dingin membuat pikiran saya melayang memikirkan sisi lain kehidupan. Per tanggal 15 Agustus 2020 saya mengambil kerja part-time sebagai tukang cuci piring dan waiter di restaurant India. Dalam kondisi saya saat itu, sebenarnya saya bisa saja untuk tidak mengambil kerja part-time ini.

Pekerjaan ini merupakan pekerjaan fisik pertama kali dalam hidup saya. Pekerjaan yang jauh dari bayangan pekerjaan ideal, membuat saya banyak merenung. Saat saya membersihkan sisa makanan, sembari mendengar customer berbincang dan tertawa, saya menjadi paham bagaimana perasaan seorang waiter. Saat ada piring berserakan di meja, saya mengerti rasanya menjadi ibu-ibu cleaning service di gedung kuliah. Saat mengangkat 1 β€œkrak” tumpukan piring, saya merasakan betul perasaan penjual kursi yang biasa keliling kompleks dengan cara dipanggul.

Ini sisi kehidupan yang tidak pernah saya alami dan dan belum pernah saya rasakan sebelumnya. Praktis, pekerjaan saya sebagai Research Assistant (RA) adalah membaca paper, menemukan kebaruan dan inovasi, mengeksperimenkan, dan menuliskannya menjadi suatu jurnal ilmiah untuk dibaca kalangan sejawat. Pekerjaan yang sangat saya senangi sekaligus menghasilkan uang yang lumayan banyak. Sangat berbeda dengan pekerjaan saya tiap weekend sebagai pencuci piring.

Tapi mungkin begitulah cara dunia bekerja. Pengalaman ini menjadikan saya untuk tetap menghargai apapun profesi orang. Tiap tetes keringat, ternyata ada ketulusan didalamnya. Dibalik malamnya orang bekerja, ada keluarga yang menanti dengan harap cemas. Tiap pegalnya tangan yang bekerja, ada harap untuk membelikan anak hal yang disukainya.

Ternyata hidup itu seperti gunung es. Apa yang nampak hanya secuil dan mungkin hanya 10% dari yang tidak tampak. Membayangkan orang dengan pekerjaan fisik dengan gaji yang terbilang sedikit namun masih tetap menyisihkan hartanya untuk berderma dan membantu sesama seharusnya menjadikan refleksi bagi saya.

Maka ada baiknya saya kembali pada hakikat, bahwa semua yang ada dalam hidup adalah ladang amal bagi diri pribadi. Posisi pekerjaan yang nyaman jangan sampai melenakan. Harta kita bukanlah seluruhnya milik kita. Kita memiliki tanggung jawab menyedekahkannya, atau minimal sesimpel menggunakannya untuk membeli cilok yang lewat di depan rumah kita.

Hidup adalah ladang amal. Dan perjalanan hidup kita hanyalah perpindahan dari satu ladang amal ke ladang amal yang lain.

Sepeda masih tetap saya kayuh meski sesekali berhenti di lampu merah. Hari ini dan besok saya adalah pencuci piring. Lusa saya adalah RA. 6 bulan lagi saya belum tahu menjadi apa. Semoga Allah selalu menanamkan rasa syukur dalam diri, menjadikan saya pribadi yang baik dan rendah hati.

Hsinchu, 27 Oktober 2020

Note:

  1. Tulisan ini dibuat bulan Agustus
  2. Saat tulisan ini terbit, saya sudah tidak bekerja menjadi pencuci piring karena posisi tergeser oleh part-timer dari India 😦
  3. Official RA dimulai bulan November
  4. 6 bulan lagi insyaAllah ada di belahan bumi Allah yang lain

Leave a Comment