9 lembar = 8 juta

Hari-hari ini rasanya ingin bercerita beberapa pengalaman dalam hidup, siapa tau bermanfaat. Eksperimen Fisika merupakan salah satu mata kuliah sebagai syarat lulus dari Pendidikan Fisika. Saya ingat sekali ~3 tahun lalu di bulan Desember yaitu saat musim liburan, entah dapat wangsit dari mana saya memutuskan untuk stay di Solo, berkontemplasi di kesendirian di pojok kamar “Kos Muslim” memikirkan tentang mata kuliah ini.

Pikir saya sangat ingin segera lulus, sesegera mungkin. Mata kuliah ini memang menjadi momok bagi mahasiswa jurusan saya karena output-nya harus berupa alat ataupun media. And it takes time. Pusing memikirkan ide, menjadikan saya sering jogging sendiri di rektorat UNS dan dilanjutkan makan bubur ayam ataupun bubur kacang hijau. Rutinitas ini adalah sweet escape bagi saya. Melihat keramaian mahasiswa-mahasiswi yang bercengkerama, anak kecil berlarian dengan temannya, ataupun melihat bapak-bapak jualan untuk menafkahi keluarga adalah “kehidupan”. Adalah hal yang bisa memompa semangat kembali.

Fast forward, sambil tersenyum kecut setelah selesai scroll Instagram melihat foto liburan teman-teman, saya mendapat inspirasi untuk membuat pendulum dengan akuisisi data secara real-time.

Long story short, setelah berguling-guling memastikan kerangka berpikirnya kokoh, software system-nya oke, hardwarenya tersedia, maka mulailah saya mencari pembimbing. Jadi posisi saya saat mencari pembimbing adalah 90% alat saya sudah jadi. Mau bagaimanapun saya harus convince beliau agar setuju. Alhamdulillah niat baik dan doa dari orang tua ternyata menembus langit. Sangat dipermudah. Bahkan sampai hari H ujiannya cuma 5 menit. Kalau ingat ini pasti senyum-senyum sendiri.

Think beyond the box, saya ingin alat yang saya buat dituliskan menjadi jurnal. Saat itu benar-benar baru dan semua dilakukan sendiri. Alhamdulillah dengan modal kesendirian ini saya nekat menulis manuskrip, membuat cover letter, menjawab pertanyaan reviewer. Semua dilakukan sendiri, tiada yang menemani seperti lagunya Noah. Setelah 3 bulan proses pertempuran dengan reviewer akhirnya dapat email penerimaan. Syukur alhamdulillah.

Beberapa bulan berlanjut, saya mendapat kabar bahwa jurnal ini bisa disulap jadi uang oleh LPPM. Walau proses lumayan ribet (kalau gak ribet bukan Indonesia kali ya), semua proses pencairan saya lalui dengan baik. Jadilah 9 lembar ini jadi 8 juta karena 50/50 dengan pembimbing. Tapi tetap alhamdulillah, lumayan krn nilai uang ini kalau digunakan untuk membeli es teh bisa dapat sekolam renang 😀

2 Comments

  1. Inggrity's avatar Inggrity says:

    Mantep..jadi bener hasil memang nggak mengkhianati usaha.

    1. egyadhitama's avatar egyadhitama says:

      Iya, alhamdulillah

Leave a Comment