Menjadi Peka

Seisi dunia terasa berpacu layaknya perlombaan, meninggalkan saya yang duduk manis di tepian, menoleh ke kanan-kiri bak pemain figuran. Semua terlihat tergesa-gesa, berlari dengan cepat, saling meninggalkan satu dengan yang lainnya. Sampai pada suatu titik ada video muncul di beranda twitter.

Ada banyak kata-kata yang ingin saya sampaikan namun saya urung mengatakan. Oh, ternyata mendidik diri menjadi manusia pada zaman sekarang ini adalah tugas rumah yang amat besar. Melatih nurani untuk bisa membaca keadaan seolah menjadi hal yang sangat sulit.

Latar belakang setiap orang pasti berbeda, namun naluri manusia seharusnya bisa menahan kita untuk tidak menyebar kemewahan disaat jutaan pekerja terkena PHK, disaat ekonomi sedang sulit, disaat petani susah menjual hasil taninya.

Masih duduk di tepian, saya melihat ke langit-langit. Tidak ada masalah sama sekali tentang gaya hidup seseorang. I mind my business. Namun, ketika hal tersebut dibuat konsumsi publik, sungguh sangat menyakiti hati ratusan juta keluarga yang dibawah garis kemiskinan. Itulah mengapa hati perlu dilatih untuk lebih peka, agar mampu memaknai bahwa materi bukanlah segalanya.

Sekelebat, saya teringat perkataan Rasulullah SAW bahwa seseorang tidak dikatakan beriman ketika dia kenyang sedangkan tetangganya kelaparan padahal ia mengetahuinya.

Saya termenung. Dan lagi-lagi saya hanya bisa termenung di tepi lintasan.

Leave a comments