Menuliskan ini sambil mengingat-ingat perihal perjalanan yang cukup jauh dilakukan hingga detik ini. You’ve been this far, mana syukurmu? Ah, ternyata diri ini harus terus diingatkan atas kebaikan Allaah Ta’ala yang tiada pernah berhenti meski itu hanya sepersekian detik saja.
Pergi melanjutkan studi di luar negeri boleh jadi mimpi setiap orang. Termasuk saya. Saya beruntung bahwa dari sekain ratus juta penduduk Indonesia, saya berkesempatan mengenyam pendidikan di luar negeri. Dulu, mimpi hanya sekedar mimpi. Bahkan ketika selesai membaca novel Negeri Lima Menara atau selepas menonton film Laskar Pelangi, saya belum berani bermimpi kuliah di luar negeri. “Mana bisa?” pikir saya.
Apabila kamu bukan orang terpintar di kelas, bahkan tidak masuk 10 besar saat SMA, tidak masuk universitas top Indonesia, pernah merasa salah jurusan, maka ada baiknya untuk membaca tulisan ini karena dalam hal ini saya adalah kamu. Sekali lagi saat itu saya bertanya, “apakah bisa?”. Namun, kenyataan bahwa akhirnya saya berada di Hsinchu, the Sillicon Valley of Taiwan, merupakan sebuah cerita yang panjang.
Trust Allah, nothing can go wrong.
Kegagalan untuk mencari peluang internship di luar negeri hingga kegagalan mengajukan program master di Eropa, Australia, dan Jepang akhirnya berujung manis ketika email masuk dari Taiwan. Melalui skema beasiswa kampus kala itu saya diterima menjadi mahasiswa di Department of Materials Science and Engineering di National Central University sebelum akhirnya pindah ke National Chiao Tung University.
Kampus ini merupakan salah satu kampus teknik terbaik di Taiwan. Kalau orang lokal bertanya saya kuliah di mana, cukup jawab Chiao Da (baca: Chiao Ta) maka mereka langsung membuka mulut dan berkata, “waaah”. Saya tergabung di laboratorium yang berfokus pada devais penyimpan energi (baterai dan superkapasitor). Yang membuat saya cukup bangga, saat Professor kami mengenalkan lebih jauh tentang laboratorium kami, beliau berkata bahwa untuk riset tentang Electric Double Layer Capacitor (EDLC), laboratorium kami termasuk yang terbaik di dunia.
September 2018 ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat pertama kali di Taoyuan International Airport, saya panjatkan doa, “Ya Allah, lancarkanlah. Izinkanlah hamba meluaskan sujud di bagian lain dari Bumi-Mu, di Taiwan.”
Perjalanan pun dimulai. Saya memulai awal semester dengan menjadi pengurus PPI Hsinchu. Sebuah organisasi yang menaungi mahasiswa Indonesia yang menempuh kuliah di kota Hsinchu. Dari segi akademis, mulanya saya berekspektasi bahwa kegiatan perkuliahan bukanlah merupakan hal yang berat, sehingga saya dapat fokus kepada berbagai kegiatan sambil mengejar straight A’s pada kuliah. Selain itu, saya masih sangat naif untuk bisa mengambil kerja part-time disela-sela waktu kuliah untuk menambah penghasilan.
Namun hidup terlalu dinamis untuk terus mengikuti apa yang kita inginkan
Terkadang dalam perjalanan hidup yang kita lalui tak pernah terlepas dari sedih dan bahagia. Kenyataannya, takdir Allah selalu berlaku kepada kita sekalipun kita berusaha mengontrol itu semua. Tertatih-tatih dalam awal perjalanan dibuatNya. Tapi mungkin memang harus begitu. Sesuatu yang berat memang harus dilalui. Sesuatu yang menyakitkan memang harus kita rasakan. Kita perlu dibenturkan, agar kita lebih kuat dalam menapakinya. kita perlu menangis agar kita paham perasaan sakit.
Secara umum, sebagian materi kuliah yang saya dapatkan sewaktu menempuh studi sarjana dan master berangkat dari dasar keilmuan yang sama yaitu Fisika. Namun harus ditambah pemahaman Kimia yang kuat, dalam fokus bahasan ilmu material. NCTU membawa level pembelajaran ke tingkat kompetisi yang sangat tinggi. Tidak ada pilihan. Bagaimanapun caranya harus bisa survive, harus paham materi, harus memenuhi nilai agar dapat beasiswa, dan harus sehat mentalnya. Ditambah juga kewajiban menyelesaikan projek laboratorium atau riset yang seolah tak berujung. Semua faktor ini membuat setiap peserta didik –atau setidaknya saya– harus melakukan kerja keras. Dibarengi nangis, dibarengi kepasrahan kepada Allah Ta’ala.
Keadaan ini membuat saya pontang-panting menyesuaikan diri. Saya yang bahkan datang ke Taiwan dengan persiapan mental yang dirasa sudah cukup untuk menghadapi hal-hal seperti ini masih merasa sangat berat untuk menyesuaikan dengan pace yang ada. Perlahan saya sadari, bahwa melalui masa-masa sulit inilah ternyata banyak pembelajaran yang dapat saya ambil untuk dapat mentransformasikan diri untuk menjadi pribadi yang dewasa.
Saya ingat sekali di tahun pertama pulang-pergi naik bis kampus. Jam 10 malam menyusuri jalan menuju asrama di malam yang pekat dan dingin yang menyelimuti tubuh. Adakalanya ingin pulang jam 12 malam namun hujan turun akhirnya tertunda sampai jam 2 pagi. Namun keyakinan bahwa yang seperti ini lebih baik dari kondisi sebelumnya meneguhkan langkah saya. Sebab memprotes takdirNya tidak akan mengubah ketetapanNya. Lalu? Menerima dengan baik, berdamai, dan berbaik sangka selalu dan selalu. Saya yakin takdir baik itu akan datang dengan ketetapan yang baik.
Saya belajar untuk bekerja dengan segenap kemampuan. Menimba ilmu mungkin rasanya berat karena tujuan yang ingin dicapai adalah sesuatu hal yang mulia. Maka dari itu harus dibarengi sikap siap bekerja sepenuh hati demi menggapainya. Meski fase ini saya jumpai banyak sekali hambatan, tapi di fase ini pula saya belajar bahwa hambatan apapun bisa saya lalui berbekal ketekunan, tekad, dan keluwesan dalam melakukan penyesuaian-penyesuaian di lapangan. I wrote a plan, and I expect little adjustments along the way!
Saya belajar bahwa saya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa tanpa Allah. Saya sangat bersyukur, dalam perjalanan meraih cita-cita, saya banyak mendapatkan pertolongan Allah melalui orang-orang yang dengan tulus bersedia membantu saya. Doa-doa gaib nan mustajab dari Ibu, Bapak, dan Kakak seolah meneguhkan kaki untuk tetap melangkah.
Tempaan di sini membuat saya mengerti bahwa perpaduan akumulasi beban kerja, rasa sepi, perasaan rindu orang-orang di Indonesia yang dirasakan ketika menempuh studi di Taiwan bukanlah hal yang mudah dijalani bagi setiap orang. Seiring berjalannya waktu, saya teringat prinsip saat kuliah S1 bahwa kemampuan yang paling penting bagi seorang mahasiswa adalah kemampuan mengukur diri. Saya menjadi terlatih untuk bekerja by target. Bila saya merasa seminggu adalah waktu yang kurang untuk mencapai target, maka saya akan memulai mengerjakan 2 minggu sebelumnya. Filosofi seperti ini ternyata efektif untuk memiliki performa yang bagus dan mencapai hasil yang diharapkan.
Menutup apa yang telah saya sampaikan diatas dan menyambung dengan kalimat saya pada bagian awal tulisan, saya ingin menunjukkan rasa terima kasih saya kepada Allah SWT, orang tua, UNS dan orang di dalamnya, dan NCTU terutama Professor Jeng-Kuei Chang beserta labmate. Merenungi ini, boleh jadi memang saya tidak pernah memilih Taiwan menjadi tujuan utama, namun Taiwan-lah yang memilih saya atas kehendak Allah untuk dapat merasakan suasana belajar yang sangat berharga.
Mengakhiri studi master ini, ada perasaan yang berkecamuk di hati, sesuatu yang tidak bisa dideskripsikan. Saya tidak dapat menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkan betapa saya bersyukur bisa menyelesaikan studi dan mengingat orang yang berjasa dihidup saya, betapa saya sedih harus berpisah dengan segala yang ada di sini, betapa saya kangen untuk bisa berkumpul dengan keluarga dan teman-teman, dan betapa-betapa yang lain.
Work hard in silence, let the success be the noise.
dibawah langit Hsinchu, 17 Juli 2020.
Selalu terpesona dengan untaian dan susunan kalimat yang indah dari mas Egy. Selalu salut dengan pilihan kata yang saling klop satu sama lain. Berhasil membuat pembaca seolah-olah menjadi mas Egy dan berhasil mengimajinasikan tulisan ke dalam pikiran. Teruslah menulis dan menginspirasi mas.
Terima kasih Mas Didik. InsyaAllah, semoga bisa istiqomah 🙂
Selamat dan sukses selalu untuk mas egy.
Terima kasih ya😊
Sudah lebih dari 1 bulan tidak up story/lesson
buset ditagih wkw. kayaknya d skip bulan Agustus, blm dapat inspirasi. makasih ya udah stay tune 😀
Keren sekali, meskipun saya nggak akan bisa seperti kamu, saya senang dapat membaca kisahmu di sini. Setidaknya saya bisa tau pemikiran orang-orang hebat lewat tulisan mereka di platform ini 🙂
Terima kasih, Inggrit. Kamu ga perlu jadi orang lain untuk keren karena menjadi versi terbaik dari diri kamu itulah keren yang sesungguhnya. Jangan lelah menjadi baik!