Manusia kadang saling menilai. Membandingkan takdir masing-masing kemudian mencari siapa yang paling beruntung dalam hidup. Padahal hidup itu seperti gunung es. Apa yang nampak hanya secuil dan mungkin hanya 10% dari yang tidak tampak.
Hari ini saya dibuat terdiam oleh cerita teman satu lab yang merasa dalam tekanan hebat untuk menyelesaikan studi S2-nya.
“Gy, kadang kalau aku tidur kepikiran untuk bunuh diri, Minta dimatikan saja sama Tuhan. Rasanya ga kuat dengan tuntutan Profesor“, kata-kata tersebut terucap dari mulutnya.
Saya terhenyak. Dia yang sehari-hari duduk di sebelah saya ternyata memiliki pandangan sampai pada tahap seperti ini. Saya mencoba tenang, diam, dan mendengarkan. Saya mendengarkan. Saya mendengarkan. Karena saya hanya bisa mendengarkan.