Saya yakin banyak orang yang merasa sangat risih dengan konten sampah di youtube seperti: prank ojol, prank kesurupan, gombalin cewek, beli mobil pakai uang receh, dan hal lain yang sudah tidak bisa disebut satu persatu. Menyesali mengapa tidak banyak orang-orang seperti (setidaknya) Gitasav di youtube, atau konten sains, video parenting, video edukasi yang bertebaran. Padahal sasaran konten sampah adalah anak-anak/remaja yang notabene penerus bangsa. Ternyata problemnya adalah orang-orang “berkualitas” tidak mau show off.
Beberapa tahun kebelakang, terutama pasca lulus sarjana saya memiliki keyakinan untuk menyamarkan apa yang ingin kita tunjukan. Menghindari aktivitas di media sosial yang boleh jadi seolah-olah berbagi, padahal rawan pamer, seolah-olah menasihati, padahal bisa terjerembab memuja diri. Meski ada yang bilang medsos itu urusan niat setiap orang. Niat adalah urusan hati, tapi dulu saya lebih memilih menghindari sembari belajar ilmu rendah hati.
Sampai pada akhirnya saya menemukan kontra dari prinsip ini melalui tulisan Gus Baha. Beliau mengilustrasikan dirinya alim bukan karena sombong, tapi sebuah keharusan. Ibarat orang sakit gigi pasti akan merujuk ke dokter gigi. Di sana lah barokahnya tulisan “saya dokter gigi”.
Lebih lanjut dari tulisan itu, beliau melihat umat sekarang butuh rujukan. Bahkan kalau kita perhatikan, Nabi pun begitu. Awwaalunnubuwwah di mulai dari At Tahaddi memaklumatkan diri bahwa beliau adalah seorang nabi. Maka dari itu, awal dari nubuwwah adalah memaklumatkan diri. Agar umat gampang mencari.
Selepas selesai membaca tulisan tersebut saya tersadar. Dalam konteks kekinian memang toxic influencer harus diadu dengan konten yang positif. Tinggal pandai-pandainya kita membaca tren yang dibutuhkan, kemudian menyediakan kontennya. Saya berpikir ini sebuah keharusan meski pada akhirnya peran mana yang mau kita ambil bergantung pada diri kita masing-masing. Peran yang terlihat atau peran yang tidak terlihat. Asal semua positif, tidak perlu mempermasalahkan dan merasa hebat satu sama lain.