Cendikiawan Islam Saat Ini

Sering terbersit dalam benak ada sesuatu yang hilang tradisi keilmuan dalam Islam. Di masa lalu, kita mengenal para ahli ilmu kedokteran seperti Ibn Sina dan ar-Razi. Al Khawarizmi di bidang matematika. Dan ilmuwan-ilmuwan lain.

Para cendekiawan Muslim dengan mudah menerjemahkan dan mengasimilasi ilmu kedokteran Yunani, Persia, dan India tanpa perlu merasa cemas akan keyakinan teologis mereka. Malah, mereka mencoba mengkorelasikan dengan nilai-nilai islam.

Dewasa ini, ketika ilmu Barat modern mulai dari biologi molekuler sampai astrobiologi, fisika kuantum astrofisika, dan cabang ilmu lain berkembang sangat pesat banyak cendekiawan Muslim yang tiba-tiba antipati terhadap perkembangan terkini dalam sains lalu berpuas diri dengan mengagung-agungkan riwayat kontribusi keilmuan islam pada abad pertengahan.

Warisan masa lalu itu lalu diklaim lebih unggul dan lebih bernuansa profetis daripada ilmu kedokteran modern yang mereka tuduh sekuler dan materialistis. Yang religius semakin jauh dari sikap ilmiah, dan yang ilmiah semakin merasa tak nyaman dengan religiusitas.

Bisakah cendikiawan muslim ini kembali lagi ke jalur yang benar? Mentadabburi ilmu alam dan memberikan nilai-nilai keislaman? Bukankah dakwah yang paling relevan pada zaman ini adalah dakwah melalui ilmu pengetahuan?

Leave a Comment