COVID-19

Kalau memang masih ada masa depan, COVID-19 bakal melegenda dan ada di buku-buku sejarah sampai buku kedokteran bahwa virus berukuran nano ini mampu mengguncangkan dunia bahka mengancam eksistensi manusia. Manusia dengan kecerdasannya, yang mampu membuat roket untuk menjelajah luar angkasa, yang mampu membuat gedung 2,722 kaki, yang mampu membuat nuklir seolah tidak berdaya menghadapi virus ini.

Sudah resmi menjadi pandemik kata WHO. Artinya sudah mewabah ke seluruh bumi, kecuali Antartika. Lebih dari 100 negara. Manusia benar-benar kelimpungan menghadapi virus ini. Langkah untuk me-lock down seperti China harus ditempuh Italia, itupun mengorbankan belasan juta orang. Info terbaru bahwa di Italia, orang tua seolah dibiarkan meninggal, bahkan yang bisa survive tapi diproyeksikan tidak berumur lama maka tidak dipriortaskan mendapat bantuan medis.

Di negara lain, Arab Saudi menutup Kabah, Oman melarang visa travel untuk seluruh negara, kelas-kelas di Swiss diganti dengan kelas online sampai akhir Spring 2020, konferensi APS terbesar di dunia juga dibatalkan. Di negara tempat saya berada, Taiwan, ada rutinitas baru. Tiap mau berangkat ke kampus kami dicek suhu dan kemudian diberi stiker kecil penanda kami aman. Pintu-pintu gedung dibuat satu jalur. Kami menghindari tempat ramai, kalau beli makan bergegas pulang.

Benar ya, manusia ini lucu. Di US orang panic buying tisu toilet. Di Indonesia masker dan handsanitizer jadi rebutan. Masih ada saja yang memainkan harga, menjual masker palsu, pura-pura menyemprot disinfektan padahal mau menjarah. Ya meski, kesalahan mereka masih kecil dibanding koruptor dan DPR yang bakal mengesahkan omnimbus law.

Terlalu dangkal kalau bilang COVID-19 ini tentara Allah, seperti kata Ust. Abdul Somad. Tapi saya yakin COVID-19 ini bisa menjadi bahan refleksi manusia. Serakahnya manusia tidak akan berkutik kalau sudah menyangkut kesehatan. Konflik bidang energi, air, dan pangan seperti yang pernah saya tulis ternyata tidak berarti kalau kesehatan terancam.

Saya sendiri tidak tahu apakah masih ada masa depan bagi manusia atau tidak. Kadang berpikir apakah ini akhir dari eksistensi manusia? Bisa jadi jarak manusia hanya hitungan minggu dari Itali. Kini, mendapat tawaran PhD di Perancis dan Taiwan pun seolah tidak se-excited itu karena wabah ini.

Bagi pribadi, mungkin ini pengingat bahwa semua akan kembali kepadaNya. Entah COVID-19 atau hal lain yang menjadi perantaranya. Beruntungnya saya menjadi seorang muslim, memiliki pegangan pada tempat terbaik untuk berserah diri. Buat apa sujud setiap hari kalau masih takut hal duniawi. Saya berdoa semoga semua dikuatkan, kalaupun hal yang tidak diinginkan terjadi, semoga diikhlaskan.

-Egy

 

2 Comments

  1. shinta's avatar shinta says:

    Mas, saya mau menggaris bawahi pernyataan ini “Kadang berpikir apakah ini akhir dari eksistensi manusia? Bisa jadi jarak manusia hanya hitungan minggu dari Itali.” Menurut mas egy sendiri fakta apa yang membuat mas menyatakan pernyataan itu?

    1. egyadhitama's avatar egyadhitama says:

      Outbreak yang terjadi di Italia sekitar awal Februari, sedang di Indonesia awal Maret ini. Kalau penanganan masih seperti hari ini, bakal menjalar ke mana-mana seperti yang terjadi di Italia beberapa minggu lalu, Shinta :). Terima kasih sudah bertanya ya! Have a nice day, semoga selalu dilindungi Tuhan

Leave a Comment