Berilmu untuk menjadi pribadi yang tercerahkan memang harus menjadi prioritas pemerintah. Pendidikan adalah investasi memang benar adanya. Indonesia masih ada harapan, setidaknya itu yang bisa saya simpulkan ketika melakukan pengabdian di perbatasan NTT-Timor Leste sebelum berangkat ke Taiwan. Di tengah keterbatasan, ada semangat yang membara dari siswa-siswa untuk belajar dan berilmu.
2 Januari 2019 kemarin telah terbit paper dari Yi Cui grup (Stanford Univ). Idenya sederhana. Menggunakan terong untuk menjadi anoda baterai Lithium Metal. Terong? Ya, terong yang sama dengan yang dijual di pasar-pasar. Irisan terong diiris tipis kemudian dibuat agar menjadi lithiophilic dan dilapisi Lithium Fluoride. Hasilnya? Boom, jurnal dengan IF 24. Kalau di Indonesia yang masih ngefans dengan scopus, jurnal ini masuk Q1. Biasanya oleh universitas-universitas di Indonesia, apabila tembus Q1 maka akan diganjar remun 25 juta. Jadi, terong 1 iris = 25 juta.
Yang lebih inspiratif bagi saya adalah grup arahan Prof. Nurul Taufiqurochman. Saat saya mengikuti webinar di mana beliau menjadi pembicara, dengan saktinya ilmu pengetahuan, kunyit 5 kg disulap hingga memiliki nilai komersial 10 juta. Di mana apabila kunyit yang biasa dijual di pasar butuh 5 ton agar bisa mencapai angka 10 juta rupiah.
Keresahan-keresahan mengapa banyak bahan mentah dari Indonesia yang dijual tanpa diolah sehingga tidak memiliki added value menjadikan saya sering ngobrol dengan Pak Su Sutarsis, terutama setiap menuju mushola NCTU untuk menunaikan sholat. Sambil bercanda saya bilang, “Besok saya yang mendirikan industri karbon untuk support teknologi baterainya ya pak. Bapak bantu dari ITS. haha”
==
Tulisan ini bukan membahas tentang uang remun, ataupun tentang IF dan Q1. Poinnya adalah pendidikan sejatinya adalah senjata ampuh untuk memajukan suatu negara. Artikel yang bertajuk “Why Indonesia will not be Asia’s next giant” pada laman Melbourne University harusnya menjadi warning ditengah gembar-gembor Indonesia Emas 2045.
https://indonesiaatmelbourne.unimelb.edu.au/why-indonesia-…/
Peluang Indonesia sangat terbuka lebar hanya jika dikelola dengan baik. Namun kalau tren seperti sekarang masih berlanjut boleh jadi prediksi hanya menjadi prediksi dan tidak menjadi kenyataan.
Sebagai pelajar milenial, kita harus paham jika teknologi dan sains telah mengubah kehidupan. Termasuk keahlian yang dibutuhkan telah banyak berubah untuk bisa compete dengan zaman. Banyak pekerjaan yang sudah diambil oleh mesin dan komputer, khususnya pekerjaan dengan kebutuhan berpikir tingkat rendah dan bersifat repetitif. Sudah pasti, robot tidak akan punya ide menggunakan terong untuk anoda baterai. Bukankah begitu?
PR ini menjadi PR bersama. India saja sudah mampu mengirimkan rover ke Bulan. Murni oleh engineer dan scientist India. Saya sering bercanda dengan teman satu lab saya yang dari India, “Selamat ya sudah bisa sejajar dengan US, Rusia, dan China. Indonesia masih tertinggal puluhan tahun kayaknya untuk bisa sampai ke Bulan”.