Bagi peneliti-peneliti yang berfokus pada energy storage khususnya baterai pasti tidak asing lagi dengan grup arahan Yi Cui dari Stanford University. Sejak 13 tahun terakhir grup Yi Cui mengerjakan hampir seluruh peluang riset di baterai mulai dari lithium ion, sodium ion, zinc, magnesium, hingga yang paling hot untuk diteliti oleh peneliti baterai di seluruh dunia saat ini yaitu baterai lithium metal.
Apabila diperhatikan lebih jauh, road map penelitian grup ini sangat sistematis dan terstruktur. Khusus baterai berbasis silikon, grup ini telah melahirkan 11 generasi di mana hampir setiap generasi mampu terpublikasi di Nature dan jurnal top lain. Seluruh kemungkinan gap riset sudah dikerjakan mulai dari safety issue, stability, coulombic efficiency, SEI, hingga masalah yang paling penting di baterai lithium metal yaitu meminimalkan dendrite dan volume expansion.
Saya jadi teringat perkataan Professor Wu yang kala itu mengajar mata kuliah electrochemistry bahwa riset yang bagus bukanlah riset dengan jangka pendek. Melainkan harus memiliki alur dan berjenjang. Persis seperti apa yang dilakukan Yi Cui. Tidak berhenti di lembaran artikel ilmiah, riset silikon untuk anoda baterai dari grup ini sudah merambah komersialisasi melalui Amprius yang Yi Cui sendiri sebagai foundernya. Hingga tahun 2016 terhitung jutaan baterai berbasis silikon telah dipasarkan.
Kini kuda pacu Yi Cui melaju lebih cepat dengan Battery500 Consortium-nya. Bersama pemain baterai lain seperti Prof. Ying Shirley Meng dari UCSD, Tesla, SLAC, IBM, PNNL mereka menargetkan mampu mencapai baterai dengan densitas energi 500 Wh/kg atau hampir 3x lipat dari kemampuan baterai saat ini.
Bagi saya pribadi, Indonesia masih bisa memilih. Bangkit mengejar ketertinggalan, atau jalan ditempat di urusan hoax-klarifikasi-hoax-klarifikasi.
-Egy Adhitama
Laboratory of Energy Storage and Green Chemistry
National Chiao Tung University, Taiwan