Melawan Takdir

Kemudian muncul pertanyaan, apakah takdir bisa dilawan? Apakah manusia yang sudah ditakdirkan akan sesuatu bisa mengubahnya? Apakah dengan takdir berarti manusia tidak memiliki pilihan? Mungkin untuk menjawab semua pertanyaan ini butuh banyak sekali pembahasan.

Sejauh pelajaran yang saya dapat mengenai takdir, mungkin seperti kemungkinan-kemungkinan yang dapat berubah. Bisa jadi takdir itu tidak satu jalur, melainkan bercabang sesuai dengan pilihan-pilihan yang manusia ambil dalam bentuk kehendak bebasnya. Pilihan-pilihan itu yang kemudian menjadi takdir baru, terus begitu sampai waktunya habis.

Seperti ketika takdir ditolak beasiswa Djarum 3 tahun yang lalu gara-gara tes psikotes. Saat disuruh menggambar bebas, saat itu saya menggambar kucing dalam karung. Persis seperti pada gambar di atas. Ternyata memang belum rezekinya.

Ternyata percabangan dari takdir itu malah mengantarkan saya pada jalur untuk menerima beasiswa lain yaitu Baktinusa dan beasiswa kuliah S2.

Hidup kadang unik ya. Manusia perlu juga mengerti bahwa sudut pandangnya terbatas, jangkauan pandangnya tidak luas, dan apa yang dia ketahui sedikit saja. Sehingga ketika sesuatu terjadi di luar apa yang ia kehendaki, ia diminta tetap bersabar dan bersyukur.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” 

(QS. Al Baqarah: 216)

Hsinchu, 25 Juni 2019

Leave a Comment