Weekend ini ingin menulis tentang fenomena youtuber yang berpenghasilan ratusan juta perbulan dengan lulusan sarjana sebagai variabel pembanding. Sebagai manusia katrok, pagi ini saya terkejut-kejut dan terheran-heran dengan video “berapa harga outfit lo” yang tidak sengaja saya lihat di Facebook. Mulai dari Reza Arap dengan outfit senilai 250-an juta, dan yang lain-lain juga sekitar 150-an juta. Tak habis pikir, sebagai pengguna setia sepatu yang beli di Pasar Ngemplak Solo seharga 150 ribu, saya terperangah pas tau harga sepatu-sepatu yang mereka beli diangka 20 juta ke atas.
Setelah membuat banyak uang, mereka juga mulai berinvestasi dibidang yang relatif stabil seperti real estate, kuliner, toko, dan lain-lain. Ketika channel youtube lesu, mereka masih bisa kipas-kipas dengan passive income. Jenius.
Sebagai variabel pembanding mari kita lihat kehidupan di sisi lain. Siswa datang ke sekolah, lulus, kemudian melanjutkan kuliah. Di sana ia berjibaku dengan mata kuliah, tugas, paper, ujian, dan kalau beruntung bisa dapat pembimbing yang susah. Setelah wisuda masih harus bersaing dengan jutaan sarjana lain untuk bisa dapat kerja dengan gaji UMR.
Atau kalau mau lebih fair dan objektif saya ambil contoh diri saya sendiri. Kuliah lanjut S2 di Taiwan, kampus terbaik di bidang Engineering. Kerja keras dan kerja cerdas bagai kuda setiap hari. Belajar, baca paper, riset, diskusi dengan advisor, eksperimen di lab, group meeting, midterm exam, final exam. Berangkat jam 9 pulang jam 11 malam, begitu setiap hari 24/7. Lulus master, kalau beruntung dan rezeki kerja di Taiwan bisa mendapat kisaran gaji 20 juta perbulan. Atau bisa jadi memilih kerja di Eropa, mungkin bisa mencapai 50 juta. Masih tetap terpaut jauh dengan 500 juta nya Ria Ricis dan Atta Halilintar.
Sampai di titik ini saya sadar bahwa kalau kita hanya ingin jadi kaya dan dapat banyak uang, cukup asah kreativitas, jadi content creator macam Ria Ricis dan Atta Halilintar (tentu dengan kerja keras).
Maka, tujuan kita sekolah dan kuliah bukanlah hanya untuk lulus, bekerja, dan mencari uang. Eman sekali waktu kita kalau hanya untuk itu. Sekolah dan berilmu itu untuk menjadikan kita pribadi yang tercerahkan, yang bisa memerdekakan dari pikiran feodal. Dengan kehadiran kita, dengan ilmu yang kita punya, bumi haruslah menjadi tempat yang lebih baik untuk di huni, minimal lingkungan sekitar kita bisa menjadi lebih baik.
Personally, saya juga kurang setuju dengan isi dari konten-konten yang mereka buat. Ga ada added value dan terkesan toxic untuk anak muda Indonesia. Tapi begitulah hidup, kita ga punya power atas kehidupan orang lain, yang kita bisa adalah mengontrol diri sendiri. Meski begitu, saya juga salut dengan mereka para youtuber ini. Mereka brillian dengan memahami target pasar mereka. Konten dengan pasar yang tertarget adalah koentji. Sedang orang seperti saya yang nyinyir pasti tidak akan mereka gubris karena memang saya bukan target pasar mereka. Seriously, dari persepktif marketing mereka memang keren.
Setiap orang adalah pemeran utama dalam hidupnya. So, you can decide what role you want to play.
Hsinchu, 16 Juni 2019