Setiap orang akan diuji masalah yang berebeda-beda kadarnya. Diturunkan masalah kepada kita karena Allah percaya hanya kita yang bisa melaluinya.
Karena berbeda-beda itu-lah kadang kita menganggap kecil masalah orang lain padahal bagi dia, masalah yang menderanya adalah hal yang luar biasa berat atau sebaliknya. Ada yang diuji dengan harta, wanita, kekuasaan, pendidikan atau yang lain. Bagi saya pribadi, ujian yang sangat berat mendera saya adalah rasa sepi. Jangan tertawa, tapi begitulah adanya. Kalau saya boleh bilang, rasa sepi ini sudah kronis. Ibarat penyakit, rasa sepi ini butuh rawat inap dan harus segera diobati.
Saya ingat-ingat hal ini sudah mulai muncul ketika saya duduk di S1. Hal ini sering menjadi bahan bercandaan teman yang satu unit dengan saya. Mereka tahu bahwa saya sering jogging sendiri di depan rektorat ataupun makan sendiri. Dulu rasa sepi ini tidak begitu terasa, tapi ketika saya jauh dari lingkaran saya, seperti saat dulu magang di BPPT dan sekarang di Taiwan, rasa sepi tersebut luar biasa mendera sampai-sampai saya menulis artikel ini
Bukan saya tidak punya teman, saya memiliki banyak sekali teman dan mereka-pun sangat baik. Ketika saya butuh bantuan pasti mereka mau membantu. Ternyata ketika saya telisik lebih dalam, saya menemukan artikel dari phsycologytoday.com yang mengatakan bahwa kasus saya ini sangat mungkin terjadi. Judul artikelnya “Feeling lonely? You may be damaging your health”
Pada artikel tersebut, dijelaskan beberapa kemungkinan penyebabnya adalah :
- I don’t have people to hang out with or do things with.
- When I need help, there’s nobody to ask.
- I don’t have close friends.
- I don’t feel part of a group or community.
- I don’t have anyone to talk to.
- My relationships are superficial.
Oh saya paham. Memang saya tidak memiliki teman berbagi hal-hal yang bersifat pribadi. No place to share with. I decided to have, tapi kendalanya adalah baper. Semenjak SMA saya punya pengalaman tentang ini. Maksud hati ingin komunikasi biasa, sharing hal kecil, menanyakan kabar, kegiatan sehari-hari, planning kedepan, tapi kebanyakan diterima berbeda oleh orang lain.
Semenjak itu hingga hari ini di WA/line saya tidak banyak chat yang bersifat pribadi kalau tidak ada kepentingan. Ya karena memang saya yang membatasi diri. Kalau mereka mulai chat yang lebih jauh ya saya jawab sekedarnya saja. Karena pola komunikasi seperti ini sudah menahun, teman-teman jadi saya paham dan hanya berkomunikasi dengan saya kalau ada kepentingan saja.
Ini diperparah ketika kita berlari lebih cepat dibandingkan yang lainnya, karena disaat yang bersamaan kita juga harus bersiap untuk merasa sepi. Jalan sendiri. Seperti tidak ada teman. Mungkin karena kita sedang berada di check point hidup kita di mana teman-teman yang lain sedang on the way untuk menuju titik ini. Ya tidak masalah karena setiap orang memiliki kecepatan masing-masing.
Namun, lama-kelamaan secara tidak sadar ini harmfull. Menyiksa. Could not describe more. Disaat yang sama saya harus fokus studi, padahal rasa seperti ini itu sangat mengganggu konsentrasi. Usia boleh dikatakan menginjak kedewasaan namun hal begini masih saja terus mengganjal dan mengganggu. Saya harus berubah. Bismillah, semua tergantung niat dan cara menyampaikannya. Hasilnya biarlah Allah dengan hatinya.
Kebumen, 16 Februari 2019