Dalam sudut pandang agama, semua yang terjadi tidak lain dan tidak bukan merupakan kehendak dari Allah SWT. Bahkan daun yang gugur pun ada dalam kuasaNya. Termasuk persahabatanku dengan orang ini. Imam Muttaqin namanya. Kami dipertemukan pada suatu organisasi. Bertumbuh bersama, saling mengisi peran, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Sahabat tidak selalu mulus dalam perjalanannya. Sering aku dibuat jengkel olehnya, dan mungkin sebaliknya. Tapi asas ukhuwah-lah yang menyatukan kami kembali. Keniscayaan bahwa dalam setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Ah, 1.5 tahun kedepan aku tidak dapat menghubungimu. Akan rindu obrolan-obrolan bodoh kita.
People come and go. Orang akan datang dan pergi. Dan setiap ada pertemuan niscaya ada perpisahan. Tentang pilihanmu, aku bisa tenang dan bahagia karena pilihanmu ini akan mendekatkanmu kepada Rabb kita. Saat yang bersamaan, aku juga sangat iri dan malu karena sungguh mulia tujuanmu untuk menjadi penghafal Quran.
Memilih menjadi santri di pondok pesantren selama 1 tahun tanpa komunikasi dengan dunia luar bukan lah pilihan yang mudah, apalagi dengan titel sarjanamu. Tapi kamu sudah memilih. Aku doakan semoga Allah ridha. Semoga Allah senantiasa menuntunmu pada jalan kebaikan.
Sahabatmu, Egy.