Mari Berhenti Sejenak

Dunia ini menjemukan, Sayang. Saat kau terus dipaksa jauh dari Tuhanmu. Lalu nuranimu mulai lupa betapa nikmatnya ketenangan saat bersamaNya. Maka Sayang, mari dengarkan seruan Muadz bin Jabal yang memanggil kita dengan ungkapan yangmenyejukkan hati, Ijlis bina nu’man sa’ah.” Mari duduk sejenak untuk beriman.

Ya Iman. Mungkin semua akan bermuara pada titik ini.

Perjuangan itu baru terasa ketika perkuliahan dimulai. Mungkin memang karena kala S1 semua urusan saya lancar dan seolah tanpa hambatan. Hal itu menjadikan situasi seperti saat ini teramat sangat berat. Kala S1 nilai bagus, organisasi oke, biaya hidup murah, dapat suplai dari orang tua, dapat beasiswa, pokoknya seimbang semua. Namun semua berbeda di sini.

Jarak yang awalnya tidak menjadi penghalang semakin menambah rasa sedih yang begitu dalam. Dari awal saya memang sudah tahu bahwa kuliah di Taiwan akan sangat keras, saya pikir bisa menghandle itu, tetapi ternyata tidak mudah sama sekali.

Setiap senin-jumat saya berangkat pukul 7.25 dan harus naik bus 15 menit untuk menuju kampus. Setelah sampai kampus jalan kaki sekitar 10 menit untuk menuju gedung. Setelah kegiatan perkuliahan selesai, saya harus stay di lab sampai pukul 20.30. Dua tekanan yang begitu besar yaitu dari sisi course dan riset sangat mengganggu mental saya.

Karena beasiswa hanya untuk semester pertama, maka saya harus mendapatkan nilai yang bagus agar beasiswa saya bisa diperpanjang. Nilai baguspun belum tentu mendapat perpanjangan beasiswa, karena masih harus diadu dengan nilai mahasiswa satu jurusan.

Selain itu saya perlu melakukan riset agar Profesor berkenan untuk menjadi advisor dan menggaji saya. Saya merasa sudah belajar mati-matian tapi merasa tidak mendapat apa-apa. Bahkan sampai larut malam tapi tetap merasa masih sangat bodoh. Tambah kesal sama diri sendiri karena jadi bangun subuh kesiangan. Ingin rasanya berteriak aaaaaaaarghh. Kadang berfikir apa saya tidak pantas untuk berkuliah di luar negeri ya.

Itu dari sisi course dan riset. Dari sisi dana, dari awal saya tidak mau mendapat suplai dari orang tua. Sudah cukup 22 tahun saya menjadi beban mereka. Karena beasiswa saya di sini parsial yaitu hanya beasiswa UKT (tuition waiver), saya harus menggunakan uang tabungan saya sendiri dulu untuk bertahan hidup sebelum uang gajian turun (ya, uang gajian! Jadi saya bekerja, dan digaji oleh Profesor).

Terbiasa hidup murah di Solo, makanan tinggal ambil tanpa berpikir harga. Disini semua berbeda. Harus hemat dan harus berhati-hati dengan halal haramnya makanan. Soal rasa jangan ditanya, jauh sekali dibanding makanan Indonesia. Kalau sangat tertekan seperti ini, hal sepele seperti cita rasa makanan kadang bisa membuat saya tambah sedih dan ingin menangis.

Dan masalah pun datang satu persatu.

Masalah ini menambah lemah mental saya setelah tertekan oleh course dan riset. Saya tidak bisa sebutkan satu persatu, tapi kalau bicara tentang uang, bisa diestimasikan saya harus keluar uang puluhan juta untuk menebus kesalahan di lab, HP rusak dll. Ambruk saya. Ya Allah, ujian mana lagi yang engkau berikan pada hamba ya Allah.

Saya bukan tipe orang yang suka curhat di media sosial seperti ini. Tapi saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Saya rasa, selain kepada Allah saya harus tetap bercerita kepada orang. Akhirnya pada suatu titik saya melanggar prinsip saya untuk tidak bercerita kepada orang tua. Prinsip saya, orang tua hanya perlu tahu anaknya sehat dan baik-baik saja. Kalau ada yang tidak baik, misal sakit dll, kita tidak perlu memberitahu mereka karena akan membuat mereka sangat khawatir. Tapi saya melanggar itu.

Saya mulai dengan menanyakan kabar ibu.

“Assalamualaikum bu, gimana kabarnya?” Bahkan dititik ini saya sudah mulai menangis dan menahannya.

“Waalaikumsalam anak ibu, alhamdulillah baik. Tumben telpon siang. Ada apa nih? Egy gimana kabarnya” jawab beliau

Saya jauhkan telepon. Saya tidak kuasa menjawab.

“Hallo egy, egy kenapa? Egy baik baik saja kan?”

1 menit saya tidak menjawab karena suara pasti sengau dan saya tidak mau terdengar deru tangis. Saat saya tidak kuat lagi menahan isak tangis saya.

“Alhamdulillah Egy baik bu, mohon doanya biar diberi kelancaran ya bu”

Saya tahan, saya tahan, saya jauhkan hp dari mulut saya agar deruan tangis tidak terdengar oleh ibu. Ternyata suara sengau saya tidak bisa ditutupi. Saya menyerah, karena ibu tahu saya menangis. Pada akhirnya saya cerita semuanya ke ibu saat itu.

Terharu saya begitu besarnya cinta ibu dengan nasihat-nasihatnya. Singkatnya seperti ini.

“Egy, egy nggak perlu takut. Janji Allah itu nyata. Seperti dulu ketika Egy merasa dititik terendah, ternyata ada rencana indah Allah dibalik itu. Egy nggak perlu takut di sana, tugas kita berikhtiar semaksimal mungkin, soal hasil biar Allah yang tentukan. Bahkan kalau dikemungkinan terburuk Egy harus pulang ke Indonesia pun Ibu masih yakin Allah bakal tunjukkan jalan yang lebih baik untuk Egy. Egy harus percaya sama Allah, insyaAllah ibu bapak dan mbak selalu mendoakan Egy dari sini. Mungkin kata-kata ibu ga bisa menyelesaikan masalah dan bahkan Egy lebih tahu daripada Ibu, tapi Ibu ingin Egy cerita kalau ada masalah ya, biar nanti kita hadapi bersama sama”

Tambah sesenggukan tangis ini.

Memang tidak mengurangi masalah, tapi bercerita itu akan membuat kita lebih tenang dan lebih rileks menghadapi masalah. Akhirnya sekarang saya dapat berpikir lebih jernih.

Saya memang beberapa kali sempat terlambat sholat subuh karena begadang untuk belajar, maka saya harus mengubah kebiasaan belajar sampai larut malam. Ada beberapa amalan sunnah yang saya lakukan ketika di Indonesia tapi berhenti di sini, maka saya harus dawwam-kan lagi. Dan di suatu titik saya ingat lantunan doa saya kepada Rabb saya.

“Ya Rabb, golongkanlah hamba termasuk orang sabar dan senantiasa syukur”

Deg.

Saya berpikir, mungkin inilah cara Allah meningkatkan kualitas hidup saya. Saya tidak akan naik level menjadi orang yang sabar dan syukur ketika Allah tidak pernah menguji saya. Bukankah saya yang minta untuk menjadi orang yang sabar dan syukur? Lantas kenapa saya mengeluh dan bersedih ketika datang waktunya ujian.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al – Ankabut :2 )

Kini, saya pintal doa disetiap ibadah saya.

“Ya Rabb yang Maha Kuasa. Apabila kesulitan-kesulitan yang hamba dapati adalah karena kemaksiatan hamba, maka kiranya Engkau ampuni dosa hamba ya Allah. Namun, abaila kesulitan-kesulitan yang hamba dapati adalah suatu bentuk ujian dariMu, hamba ridho ya Allah, kuatkanlah hamba dan jadikanlah hamba ini hamba yang lulus. Aamin”

Saya ingat ayat terakhir dari surat Al-Baqarah.

laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha. Allah swt tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Bismillah ya Allah, berilah hambaMu yang lemah ini kekuatan. Ternyata memang semua akan bermuara kepada Rabb kita. Maka mari duduk sejenak untuk beriman.

Hsinchu, 12102018

-Egy Adhitama (hamba yang lemah)

1 Comment

Leave a Comment