Satu tahun lalu, saat saya masih semester 7 dan posisi saya masih magang di Pusat Teknologi Material di BPPT, beredar informasi bahwa rombongan Professor dari Taiwan akan datang ke Indonesia. Mereka sengaja datang untuk mencari mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi Master ataupun PhD di kampusnya. Nah, segera saya pulang ke UNS untuk menghadiri acara tersebut dan mengikuti proses interview. “Siapa tahu memang rezeki S2 di Taiwan” pikir saya. Qadarullah, di akhir interview akhirnya saya mendapatkan LoA dari National Central University (NCU). Alhamdulillah saat saya mengetik tulisan ini sekarang posisi saya sudah ada di Taiwan, tepatnya NCTU 🙂
Note
I just want to notice you guys. Pilihan setelah lulus mau kerja atau S2 itu perlu pemikiran yang matang. Jangan karena menghindari gap year menjadikan S2 sebagai pelarian biar tidak nganggur. Isn’t wise choice. Yang penting adalah luangkan waktu yang banyak dulu untuk berpikir dan merencanakan.
Dan berpikir tidak sekedar “wah kayaknya jadi pengusaha asik nih” atau “mau kerja di perusahaan multinasional ah”. Tapi berpikirlah secara mendalam. Tanya pada diri sendiri: Mau jadi apa? Apa manfaatnya buat diri sendiri dan orang sekitar? Berapa lama mau mencapainya? Seperti apa cara menggapai keinginan tersebut? Apa implikasinya untuk orang sekitar? Apakah itu feasible? Berapa banyak investasi yang harus dikeluarkan? Semakin banyak kamu bertanya pada diri sendiri, semakin ter-explore apa maumu, kebutuhanmu, dan apa yang cocok buatmu.
Jangan lupa pula lakukan reality check bagaimana kondisi keluargamu. Apakah kamu punya orang tua yang harus dirawat? Saudara yang harus dibiayai? Lalu tentukan visi misimu berdasarkan itu.
Is it okay?
Kalau memang udah serius mau S2 atas pertimbangan yang matang, baiklah akan saya tepati janji saya untuk berbagi tips interview. FYI, Interview ini sejenis backdoor (jalan belakang). Bagi yang mendapat LoA dengan skema interview ini, 90% kalian akan berhasil studi lanjut di Taiwan. Teman-teman yang sekarang ada di semester 7 ataupun sudah selesai S1 sangat saya sarankan untuk mengikuti proses interview ini.
- Informasi Umum
Bagi teman-teman yang belum tahu, setiap tahun puluhan Professor dari berbagai universitas di Taiwan datang ke Indonesia untuk melaksanakan interview dalam rangka mencari mahasiswa untuk studi lanjut di Taiwan. Untuk tahun ini (sampai postingan ini terpublish) saya baru mendapat informasi mengenai NCU dan NTUST, kampus lain belum rilis informasinya.
Untuk mengetahui informasi terbaru, teman-teman bisa mengikuti fanspage PPI Taiwan di FB, insyaAllah akan diupdate informasinya di sana. Atau teman-teman juga bisa mengikuti website resmi OIA (Office of International Affairs) dari kampus-kampus tersebut.
(PPI Taiwan : https://www.facebook.com/pengurusppitaiwan/)

Kebanyakan dari mereka datang ke Indonesia pada bulan November, jadi mulai dari sekarang silahkan persiapkan persyaratan yang diminta. Apabila kamu mahasiswa/alumni dari kampus yang tidak ada di list jangan berkecil hati, kamu tetap bisa mengikuti interview. Tinggal isi google form aja euy. Karena ada kasus teman saya dari UNS tetapi mengikuti interview di UGM, alhamdulillah dia lolos juga.
- Tips Umum
Silahkan sekarang klik link google formnya, meski itu dari NCU, saya rasa kampus lain juga relatif sama persyaratannya. Sangat simpel ya. Teman-teman hanya perlu membawa 4 dokumen, yaitu :
- Interview form (this will be sent to you via e-mail after you register and 3 days before the interview)
- CV
- Transcript
- English Proficiency Proof if any
Apakah paten harus membawa 4 persyaratan itu? Bagaimana kalau saya belum ada transkrip? Bagaimana kalau tidak ada nilai TOEFL? Nah, untuk medapatkan jawabannya mari dengarkan celotehanku hehe.
Curriculum Vitae
Buat semenarik mungkin, hindari menampilkan informasi yang tidak perlu ya misalnya nama TK dan SD. Meski tidak ada standar baku untuk format CV nya, saat itu saya menggunakan format europass. Ini format standar untuk apply di Eropa, tapi saya pakai saja karena sangat baikTeman-teman bisa cari di google nih. Kalau ada research experience, thesis, atau work experience perlu banget ditampilkan di CV bagian awal-awal.
Transcript
Dulu, saat itu, saya masih semester 7 dan posisi saya belum mempunyai transkrip lho. Jadi saya membuat transkrip sendiri dengan tanda-tangan dari Pak Dekan. Kenapa membuat sendiri? Karena bagian akademik fakultas saya tidak mau membuatkan (lebih ke tidak bisa sih) dan tidak ada pengalaman untuk mengeluarkan transkrip sampai semester 7. Ya, akhirnya saya inisiatif untuk membuat transkrip sendiri dengan format seperti transkrip resmi. Saya print pakai HVS, di tanda tangani Pak Dekan, dan di cap. Sah.
TOEFL
Satu masalah selesai datang masalah lain. Saat itu saya tidak ada skor TOEFL. Mau tes sudah terlalu mepet, mahal pula sekitar 500 ribu. Juga saya belum belajar persiapan tes TOEFL. Akhirnya saya dengan pertimbangan yang tamvan dan vemverani saya putuskan tidak membawa hasil TOEFL saat interview. Kalau kata orang jawa itu WANI PERIH. Hehehe
Certificate of Expected Graduation
Karena saya dulu masih semester 7, jadi saya juga membuat Certificate of Expected Graduation sebagai pengganti ijazah meski tidak dipersyaratkan untuk membawa. Sertifikat ini adalah sejenis jaminan kalau saya bakal lulus sebelum keberangkatan kuliah S2 (sekitar November tahun depannya).
- Tips Khusus
Yang perlu di ketahui adalah Professor tersebut datang secara personal sekaligus representasi dari Department-nya. Contoh, Prof. Chih-Ang Chung (dosen yang menginterview saya) yang berasal dari Mechanical Engineering, bisa jadi beliau yang sedang mencari mahasiswa ataupun beliau mencarikan mahasiswa untuk Professor lain dari Department of Mechanical Engineering.
Nah saat akhir interview beliau memberi saya LoA tapi saya masih harus menghubungi Professor yang disarankan beliau untuk menjadi advisor saya karena riset saya lebih cocok dengan Professor tersebut.
Pilih Professor yang sesuai minat
Nah, langkah pertama adalah cari Professor yang cocok dengan minat kita. Bisa Professor yang hadir maupun yang tidak hadir saat proses interview. Bagaimana tahu cocok dan tidak cocok? Bisa dilihat dari topik Skripsi/TA kita dengan riset beliau. Misal dulu saya pernah riset tentang baterai, maka saya cari Professor yang tema risetnya tentang baterai.
Kalau skirpis/TA kita tidak relevan dengan riset Professor gimana? Still worth to try. Cari yang sesuai interest kita di masa depan. Prof. Chih-Ang Chung juga risetnya bukan tentang baterai, tapi dari sekian Professor yang datang, hanya beliau yang risetnya masih berbau energi, jadi saya putuskan memilih beliau. Maka saya buka website personalnya beliau di web NCU, saya baca publikasinya, saya baca track recordnya, dll sampai semua informasi tentang beliau saya paham.
(Sebelum ke Prof. Chung, pada awalnya saya juga interview ke Prof dari Environmental Engineering karena saya pikir di masa depan bakal berguna banget ilmunya yaitu tentang waste-water treatment. Tapi saat proses interview Prof nya bilang butuh basic chemistry yang kuat sedang saya dari fisika. Jadi ya seperti didepak secara halus haha)
Korespondensi dengan beliau
H-7 baiknya kita memulai komunikasi dengan Professor yang kita incar via email. Beri kesan pertama yang baik. Perkenalan diri, kemudian sampaikan maksudnya. Saya kasih contoh ya saat dulu saya menghubungi Profesor dari Environmental Engineering

Penting email pertama ini agar kita bisa perkenalan sebelum bertemu. Karena kalau nyambung nanti bakal ada diskusi lebih jauh dan insyaAllah kalau cocok bakal lebih mudah dapat LoA.
Sampaikan apa yang sudah kamu lakukan saat S1
Nah ketika tahap interview, kamu mulai dengan perkenalan diri. Kemudian kamu sampaikan apa yang udah kamu lakukan saat S1. Misal kamu pernah bekerja di lab, menguasai berapa basic instrumen, atau kalau memang ada, sampaikan risetmu sudah terpublikasi. Kalau kamu punya penghargaan juga bisa disampaikan karena itu bakal jadi nilai plus.
Sampaikan juga bahwa kamu tertarik untuk menjadi mahasiswa beliau (misal, atau Prof lain). Kemudian sampaikan juga bahwa kamu juga udah baca paper-paper beliau dan kamu rasa riset beliau sangat relevan dengan risetmu. (Orang akan merasa dihargai kalau karyanya berguna dan dibaca orang lain hehe)
Setelah kamu selesai menyampaikan, nanti giliran Professor yang bicara. Biasanya dia tanya pertanyaan dasar, seperti mengapa pilih jurusan ini, mengapa pilih Prof ini, saat kuliah apa saja yang kamu pelajari.
Durasi waktu interview tiap orang berbeda-beda. Ada yang 15 menit, 10 menit. Kalau dulu saya sekitar 5 menit karena ketika saya sampaikan saya sudah memiliki publikasi, beliau langsung manggut-manggut, tanpa pikir panjang dan tanya tentang materi kuliah beliau malah langsung menulis LoA buat saya yeeyy.
Kalau gak dapet LoA gimana?
That’s not the end of the world. Saya kenal beberapa anak yang tidak dapat LoA saat interview akhirnya juga berhasil kuliah di sini karena selesai interview mereka mencoba menghubungi Professor lain via email.
Lagian tidak dapat LoA juga tidak masalah karena ini hanya backdoor. Teman teman bisa mengikuti alur admission secara normal tanpa harus dapat LoA dulu (kebanyakan pakai carai seperti ini). Baru nanti setelah resmi diterima tinggal pencarian Professor sebagai pembimbing. Keep struggling!
Berdoa dan serahkan semuanya pada Allah
Sure, all effort will be paid off. Kalau kata sahabat Ali r.a. bahwa kita akan bertemu kesuksesan disuatu titik hingga kita lupa pahitnya rasa sakit dalam perjuangan. Bermohon kepada Allah agar dimudahkan. Terhitung entah berapa kali saya dicuekin dan tidak di balas oleh Professor yang saya hubungi. Banyak kampus yang sudah saya coba seperti Kyushu, Tohoku, Osaka, HKUST, KAIST, NTU tapi ternyata rezekinya ada di tempat lain.
Jangan takut kalau kamu tidak tahu rezekimu dimana, insyaAllah rezekimu tahu kamu ada dimana 🙂
-Egy Adhitama