Sains dan Agama

Beberapa waktu lalu jagad twitter ramai karena postingan yang berbau saintifik dibalas dengan twit yang berbau agama. Kronologi lengkapnya bisa dilihat pada gambar. Kalau menurut pembaca sekalian bagaimana? Bagi saya pribadi sangat disayangkan tanggapan dari ibu tersebut.

Saya termasuk orang yang kontra dengan tanggapan semacam itu, tanggapan semacam itu bernilai benar, tapi tidak pada tempatnya. Maka agar perspektif saya bisa tersampaikan dengan baik akan saya ceritakan dulu sejarah mengapa islam mengalami kemunduran dibidang ilmu pengetahuan.

Kita mengetahui bahwa muslim pernah berjaya dari zaman sahabat yang berhasil membuka Konstantinopel hingga perluasan ke daerah lain. Dan pada saat-saat itu pula lahir banyak ilmuwan-ilmuwan muslim. Hingga kejayaan itu hanya bertahan sampai sekitar 1500 M karena setelah itu peradaban Barat bangkit dan menutupi kedigdayaan peradaban umat islam. Sampai saat ini, bahkan kini umat islam identik dengan ketinggalan jaman dan ketikdakmakmuran.

Apabila ditelisik lebih lanjut mengapa hal ini bisa terjadi salah satunya adalah karena kertas. Umat muslim kala itu tidak mau beradaptasi dengan perkembangan jaman ketika menolak teknologi percetakan. Kertas sendiri awalnya dicetak di China, namun mereka tidak memproduksi secara masal.

Hingga pada suatu ketika saat terjadinya perang Talas yaitu perang antar umat muslim dengan sebagian kecil bangsa China terjadi. Ada beberapa tawanan perang dari musuh yang kemudian dibebaskan dengan syarat harus mau mengajarkan teknologi pembuatan kertas.

Maka sejak saat itulah umat muslim mulai menggunakan kertas untuk keperluan birokrasi dan juga ilmu yang kemudian umat muslim pulalah yang memproduksi kertas secara masal pertama kali. Kertas-kertas tersebut kemudian kumpulkan dan dijadikan satu seperti buku yang. Inilah yang membuat umat muslim maju, Sedangkan di Eropa saat itu belum mengenal kertas dan dari segi ilmu jauh tertinggal dari muslim.

Hingga semua berubah ketika terjadi perang salib.

Orang Eropa menyadari bahwa ini menjadi hal yang revolusioner dan mereka memulai untuk membuat mesin cetak, sehingga jika sebuah dokumen ingin diperbanyak maka tidak perlu lagi ditulis manual dengan tangan. Hal inilah yang membuat penyebaran ilmu di Eropa mulai meningkat pesat, mungkin yang sering kita dengar ilmuwan seperti Newton dan Galileo lahir setelah tahun 1500-an Masehi tadi.

Sekarang bayangkan bahwa di tahun 1800-an, daerah kecil seperti Hawai, Tahiti juga Meksiko sudah memiliki mesin cetak, Lalu apa yang terjadi di pusat peradaban Islam di Damaskus dan Kairo? Tetap masih ditulis dengan tangan. Tahu kenapa muslim tetap kekeuh dengan tulisan tangan?

  1. Karena itu adalah teknologi orang kafir
  2. Ada kekhawatiran ilmu tersebar secara tidak terkontrol dan tidak dipertanggung jawabkan (agar tetap menggunakan jalur ijazah)

Singkat cerita, mesin cetak baru merambah dunia islam saat tahun 1800, bahkan konon Al-Quran cetak pertama dilakukan oleh non-muslim.

Lalu apa hikmah yang bisa diambil dari sini? Kita butuh muslim yang tidak hanya menguasai Ilmu Islam tapi juga yang tidak narrow minded. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sendiri tidak anti dengan perubahan, sebagaimana yang mungkin kita tahu, setelah perang Badr, Rasulullah perintahkan kepada tawanan dari suku Quraish untuk mengajarkan membaca dan menulis kepada umat Islam, karena pada saat itu kemampuan tersebut sedikit sekali dimiliki di tanah Hijaz.

Adapula kisah ketika Rasulullah menerima dan menerapkan usulan Salman Al Farisi untuk membangun parit ketika perang Khandaq, padahal ‘teknologi’ itu tidak pernah dilihat sebelumnya, hanya ada di Persia. Maka, sudah sepatutnya menjadi muslim jangan anti modern, jangan anti saintifik, jangan anti berpikir ilmiah.\

Muslim saat ini kurang fight di bidang sains dan teknologi. Jangan menjadikan agama jadi barrier untuk ilmu pengetahuan seperti yang dilakukan ibu tadi. Justru tugas kita sebagai umat islam untuk terus berilmu, agar kita bisa menjadi jembatan antara islam dan sains. Disitulah bentuk jihad kita saat ini, jihad melalui ilmu pengetahuan.

Tabik,

Egy Adhitama

Leave a Comment