Tak terasa hati ini terus bergetar dan bibir ini terus bergumam ketika aplikasi saya mulai dari visa hingga dokumen perlengkapan registrasi ulang sudah diterima oleh pihak NCTU. Begitu pula keluarga saya yang turut bahagia atas jalan yang Allah berikan ini. Titik yang saya tapaki sekarang merupakan akumulasi dari 4 tahun perjuangan saya saat kuliah sarjana, terutama 1 tahun terakhir ketika saya mulai mendaftar dan mencari kampus di luar negeri meski saat itu saya baru masuk semester 7. Tentu juga atas doa-doa saya dan doa orang tua yang menjadikan Allah ridho.
Saya, Egy. Tidak pernah terbersit sedikitpun akan bisa menimba ilmu di luar negeri, apalagi di “ITB-nya” Taiwan yaitu National Chiao Tung University (NCTU). Semenjak SNMPTN dan SBMPTN seolah langit hitam dan pekat. Tapi ternyata Allah menuntun saya. “He found you lost and guide you” (QS. Ad-Dhuha). Tidak diterima di ITB melainkan diterima di UNS merupakan salah satu kenyataan terbaik dalam hidup saya.
Bermula di akhir tahun 2017 mulai mencari-cari professor serta me-list universitas yang akan saya apply. Saat itu saya apply di UTokyo namun ternyata gagal di tahap terakhir yaitu entrance test. Kemudian saya mendapat kabar bahwa belasan professor dari National Central University (NCU) datang ke kampus untuk mencari mahasiswa. Karena mendadak, dengan modal seadanya yaitu tanpa TOEFL dan hanya membawa transkrip sementara dan CV saya nekat mengikuti wawancara.
Gayung bersambut ternyata saya mendapatkan LoA. Anggapan saya ke depan sudah pasti mudah karena sudah ada “tiket” masuk, tapi ternyata tidak…
Untuk mendapatkan final admission, saya perlu melengkapi banyak dokumen. Selepas wisuda pada bulan April ternyata saya hanya mendapat ijazah. Sedangkan transkrip masih menyusul yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan. Saya mengajukan percepatan penerbitan dengan menghubungi WR1 dan WD1. Bolak-balik dan pusing 7 keliling menghadapi birokrasi kampus, apalagi ini pertama kalinya ada mahasiswa mengajukan percepatan transkrip.
Sampai ketika semua persyaratan lengkap, saya mulai mengisi online admission. Selang beberapa hari, saya baru sadar ternyata saya salah mengisi nama universitas di statement of purpose saya. Saya mengisi “Murdoch University” bukan “National Central University” di kalimat akhir.
Begini bunyinya,
Therefore, I am very interested to join Murdoch University. After I complete my study, I want to contribute as researcher and consultant in my country for developing the renewable energy.
Seketika lemas dan ingin menangis-lah saya, apalagi semua orang sudah tahu kalau saya diterima di NCU. Kemudian skenario Allah berlanjut. Ternyata advisor saya (Professor yang menerima saya) berkata semester depan akan pindah ke NCTU. Walhasil saya disuruh apply di NCTU oleh beliau.
Saya terus bergumam. Ternyata Allah masih memberikan kesempatan bagi saya, apalagi universitas yang baru ini (NCTU) lebih bagus daripada universitas sebelumnya (NCU). Mengisi online admission kembali membuat saya sangat berhati-hati agar tidak ada kesalahan sedikitpun.
Akhirnya pengumuman NCU tiba. Tidak disangka saya tetap diterima meski telah melakukan blunder yang fatal. Di sini saya akan mendapatkan beasiswa kuliah gratis serta biaya hidup 10.000 NTD (4,7 juta) setiap bulan. Dua minggu kemudian keluar pengumuman bahwa saya juga diterima di NCTU dengan beasiswa yang sama, namun nominal beasiswa hidup hanya 7000 NTD (3,3 juta).
Meski dengan beasiswa yang lebih sedikit, saya memilih NCTU. Selain karena lebih bagus, kampus teknik ini terletak di Hsinchu Science Park, atau “Silicon Valey”nya Taiwan. Di sinilah pusat pengembangan teknolgi Taiwan berada. Taiwan yang dikenal menjadi salah satu pusat semi-konduktor dunia ternyata “pabrik”nya ada di kota ini. Hampir 50% semikonduktor di dunia dalam 1 dekade terakhir diracik di kota ini. Para ahli sains & teknologi Taiwan di perusahaan top seperti ASUS, HTC, dll mostly berasal dari sini. Sudah barang tentu akan ada integrasi yang kuat sekali antara penelitian di kampus dengan industri.
Sebelum berangkat, yang agak ribet adalah memenuhi persyaratan visa. Karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatis dengan Taiwan, maka fungsi Kedubes digantikan oleh perwakilan kantor dagang Taiwan yaitu TETO. Sebelum melewati TETO, dokumen seperti ijazah dan transkrip harus melalui double authentification dari Kemenkumham dan Kemenlu yang prosesnya lumayan lama (apalagi saat saya mengurus terpotong hari libur lebaran, jadi lama sekali).
Saya termasuk orang yang malas dengan administrasi, apalagi saat itu saya mendapat tugas pengabdian “Marching for Boundary” di perbatasan Indonesia-Timor Leste selama satu bulan, saya memutuskan menggunakan jasa agen. Karena jumlah mahasiswa yang diterma fall semester di Taiwan banyak sekali, menjadikan agen yang saya gunakan untuk mengurus dokumen juga kewalahan. Alhasil dokumen saya molor hampir 1.5 bulan.
Namun memang itu semua baru awal. Kini saya harus menatap masa depan. Mohon doanya agar saya diberi kelancaran dan kemudahan oleh Allah SWT. Semoga ada pelajaran hidup yang dapat diambil.
Salam dari Hsinchu,
Egy Adhitama
Barakallah, semoga prosesnya dilancarkan dan dimampukan. Ditunggu tulisan pengalaman selanjutnya..
Sure annisa, insyaAllah ya ^^
Hai Kak Egy. Perkenalkan aku Talitha alumni UNS Tahun 2016. Boleh kiranya mau nanya mengenai bagaimana caranya mendapatkan rekomendasi dari Profesor?. Terima kasih sebelumnya
Hallo Mba talitha, salam kenal ya
Ada beberapa cara mba.
1. Datang interview utk ketemu profesor tsb di bulan november pas Profesor datang ke Indo (lihat fb PPI Taiwan biasanya diupdate d sana ya)
2. Email beliau sec langsung
3. Kalaupun tidak dpt profesor masih ttp bs kuliah d sini kok. Mendapatkan profesor sblm admission sejenis “backdoor” saja hehe
mungkin bbrp postingan sy sebelumnya bs berguna mba
1. https://egyadhitama.wordpress.com/2017/12/11/menjemput-s2-di-luar-negeri-sebelum-lulus-s1/
2. https://egyadhitama.wordpress.com/2017/11/16/perjuangan-mencari-tempat-kuliah-di-luar-negeri/