Hsinchu in Brief

Well hallo people 🙂 (macam ada yang baca aja haha). Pada postingan kali ini saya ingin bercerita tentang serba-serbi kehidupan di Taiwan, khususnya di kota Hsinchu. Hsinchu adalah salah satu distrik di Taiwan bagian utara dan ditempat inilah Science Park berada. Science Park itu sejenis “Silicon Valley”nya Taiwan, jadi industri elektronik berada di sini. Bahkan dalam 1 dekade terakhir, 50% semikonduktor dunia diproduksi di sini.

Bahasa

Hsinchu, bersama dengan Taipei juga masuk 100 kota terbaik bagi pelajar. Keunggulan Hsinchu dibanding Taipei adalah suasana yang lebih sepi dan jauh dari hiruk pikuk kota. Semua orang berbahasa Mandarin di sini, tapi tidak perlu takut karena kalau masih di sekitar kampus mereka bisa berbahasa Inggris dasar. Bahkan kasir 7-Eleven pun dapat berbahasa Inggris.

Transportasi

Pernah saya naik kereta pertama kali (dan sendiri, karena masih sendiri) dan posisi saat itu saya dari Taoyuan mau ke Hsinchu. Saya bingung pakai kereta yang mana. Akhirnya saya iseng tanya orang yang kebetulan lewat.

“Sorry Ms, do you know which train I should use? I wanna go to Hsinchu”

“I will go to Hsinchu too. That train, but I think we won’t catch up. Just wait for the next train”

So, jangan takut tersesat di sini karena kendala bahasa. InsyaAllah bukan barrier kok. Pun kalau mau makan dan bingung ngomongnya ya tinggal pakai bahasa isyarat. Tunjuk ini tunjuk itu haha.

Untuk transportasi, saya biasa menggunakan bus. Sistemnya pakai sejenis kartu (sebutannya easy card) yang ada balance nya. Mirip THB untuk KRL. Nah dengan easy card ini bisa digunakan mulai dari bus, train, sampai U-bike. U-bike adalah fasilitas sepeda dari pemerintah dengan biaya gratis untuk 30 menit pertama, setelah itu bayar untuk 30 menit berikutnya, dst.

Motor tidak boleh masuk ke area kampus. Jadi semua mahasiswa dan dosen di sini jalan kaki setelah masuk area kampus. Selepas jam istirahat, semua orang akan berjalan kaki menuju Dinning Hall untuk makan, jadi tumplek blek jadi satu. Butuh waktu hampir 10 menit dari gedung saya untuk ke Dinning Hall dan 15 menit ke mushola. Udah cocok jadi duta green campus kan? 😀

Makan

Bicara tentang makan, di kampus NCTU ada 3 kantin, tapi kantin yang selalu saya kunjungi adalah di Dinning Hall 2 lantai 2. Kenapa? Karena hanya di sana terdapat makanan khusus vegetarian. Saya mau cari aman saja dengan tidak makan ayam karena yang menyembelih bukan muslim, tidak makan ikan karena takut wajan yang dipakai sama dengan wajan untuk memasak babi.

Ada warung halal di Tinha, tapi letaknya jauh sekali. Warung Indonesia pun ada di downtown. Tapi harus pakai bus sekitar 15 menit. Banyak warung Indonesia di sini karena BMI (Buruh Migran Indonesia) kebanyakan di downtown. Harga makanan di downtown tentu sangat mahal. Nasi goreng aja 80 NT (40 ribu). Bahkan harga roti Khong Guan menjadi 180 NT 90 ribu.

Jadi pilihan paling rasional kalau di kampus ya beli makanan untuk vegetarian. Soal harga, teman-teman saya habis sekitar 60 NT (30 ribu) untuk sekali makan. Tapi saya bisa hanya 30 NT karena menggunakan survival hack haha. Perhitungan harga adalah dengan mengukur berat makanan yang kita ambil. Misal berat sayur dan lauk yang diambil adalah 90 gram, maka bayarnya 90 NT, kalau tambah nasi jadi 100 NT.

WhatsApp Image 2018-09-15 at 07.34.41
Makanan tiap hari ya gini

Sayur dan buah adalah makanan mewah di sini karena sangat mahal. Bayangkan 1 pisang di 7-Eleven harganya 9.500. Itu satu lho wkwk. Terus aku pernah beli satu ubi cilembu harganya 45 NT (Rp 22.500). Langsung geleng-geleng kepala dan tepok jidat.

Kehidupan Kampus

Lab buka 24 jam dan masing-masing lab punya budaya kerja berbeda-beda. Misal Lab ku yaitu Laboratory of Energy Storage and Green Chemistry di Engineering Building 6 memiliki budaya kerja jam 10 pagi sampai 6 malam. Tapi saya biasa berangkat jam 7.25 dan pulang jam 22.00. Jadi ya kerja kerad bagai quda. Bahkan sampai sekrang belum sempat foto-foto di main gate dan spot foto bagus di kampus haha. Di lab pasti terdapat 1 Professor sebagai pembimbing. Nah biasanya memiliki mahasiswa Postdoc, PhD, dan master. Kalau di lab ku ada 2 postdoc, 4 PhD, dan 5 Master student. Jadi saya yang paling kroco.

Setiap minggu kita ada meeting untuk laporan progress. Meeting ini sungguh seperti sidang skripsi, bedanya ini tapi tiap minggu. Kadang kita dihabisi apalagi kalau tidak ada progress. Kebetulan kemarin saya presentasi, dan memang ditanya secara kritis oleh Professor dan mahasiswa PostDoc. Tapi alhamdulillah semua lancar.

Untuk kuliah di kelas saya diwajibkan menyelesaikan 24 sks dalam 2 tahun. Untuk semester ini saya ambil 3 mata kuliah + 1 mandarin class + 1 seminar. Doakan lancar ya. Yang paling membuat saya shock adalah gaya  berpakaian. Di sini bebas mau pakai apa. Sebagai orang Indonesia yang biasa pakai batik dan celana panjang serta bersepatu untuk kuliah saya shock melihat pemandangan orang pakai celana pendek dan kaos serta sandal. Persis kayak orang bangun tidur langsung berangkat kuliah. Bahkan banyak juga yang pakai (maaf) hot pants dan tank top untuk kuliah. Dan itu hal yang sangat lumrah. Jadi ujian juga bagi saya -_-.

Rohani

Berbeda dengan NCU, karena mahasiswa Indonesia di NCTU belum begitu banyak, jadi saya masih wait and see dulu. Di sini banyak orang muslim dari timur tengah dan India, jadi kebanyakan kegiatan islam dihandle mereka dan saya sebagai follower saja. Beruntung di kampus ini ada mushola yang difungsikan sebagai masjid. Alhamdulillah jadi untuk sholat jamaah bisa lancar. Ini yang paling penting.

Mungkin itu dulu yaa. Semoga urusan kita senantiasa dipermudah oleh Allah SWT. Aamiin 🙂

==

Nb: Kalau pernah liat film You are the apple of my eye, selepas lulus SMA kan tokoh utama yg cowok lanjut kuliah. Nah, ternyata itu adalah NCTU (kaget juga pas pertama ngerti). Persis dorm nya juga mirip seperti itu, dan budayanya pun masih sama seperti itu, tapi ga ada festival tarung di dorm wkwk.

Leave a Comment