Ngomongin soal PhD atau perjalanan S3, ingatan kita sering kali langsung tertuju pada tumpukan jurnal, malam-malam panjang di laboratorium, atau sidang yang menegangkan.
Tapi pas saya nengok ke belakang, pelajaran paling mahal yang saya dapet justru sama sekali gak ada hubungannya sama topik riset saya. Banyak realita “mentah” di dunia S3 yang gak bakal bisa kita temuin di buku teks manapun. Gak ada juga orang yang pernah memperingatkan kita di awal tentang gimana proses panjang ini bakal ngubah diri kita seutuhnya.
Setelah melewati badai itu, ini beberapa realita yang pada akhirnya mengubah total cara pandang saya:
1. Menjadi “Expert” Bukan Berarti Tahu Semua Jawaban
Dulu pas awal-awal memulai S3, saya mikir jadi seorang expert atau ahli itu berarti harus tahu semua jawaban atas pertanyaan di bidang kita. Ternyata konsepnya gak begitu.
Di dunia riset, orang yang beneran ahli justru biasanya jadi orang yang paling hati-hati pas ngomong. Kepercayaan diri yang menggebu-gebu dan merasa tahu segalanya itu seringnya malah ada di level pemula (Dunning-Kruger effect nyata adanya). Orang yang makin paham bidangnya justru bakal makin sadar seberapa luas semesta ilmu ini, dan seberapa banyak hal yang belum mereka ketahui.
2. Mempertajam Pertanyaan
Kita bisa ngabisin waktu bertahun-tahun cuma buat nyari jawaban dari satu pertanyaan yang sangat spesifik. Eh, ujung-ujungnya baru sadar: skill terpenting yang ditempa selama S3 bukan sekadar nemuin jawaban instan, tapi gimana caranya bertanya dengan lebih tajam.
S3 gak pernah ngasih kita buku kunci jawaban. Proses ini melatih kita buat “nyaman” hidup berdampingan dengan ketidakpastian, sembari terus merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang lebih berbobot dan relevan.
3. Belajar agar Data yang Bicara
Jebakan terbesar seorang peneliti adalah ego yaitu keinginan untuk nge-klaim sesuatu yang lebih besar dari apa yang bener-bener bisa dibuktiin sama data di lapangan.
Kita boleh banget bangga sama temuan riset kita, tapi jangan sampai overclaim. Data yang solid itu punya kekuatannya sendiri; dia gak butuh bumbu hiperbola atau kata-kata promosi yang lebay untuk terlihat meyakinkan.
4. Revisi adalah Bentuk Pendewasaan Berpikir
Dicoret-coret, direvisi, dan dibongkar bolak-balik bukan berarti kita payah atau salah. Itu adalah tanda bahwa cara berpikir kita sedang digiring untuk makin presisi.
Di akhir perjalanan, temuan riset saya sebenarnya gak begitu banyak berubah. Yang berubah total justru adalah cara saya ngejelasinnya. Pemahaman yang matang itu cirinya adalah kesederhanaan. Sesuatu yang dibikin rumit cuma bikin orang kagum sesaat, tapi sesuatu yang dibikin jelas bakal bisa ngebantu orang selamanya.
5. Jangan Masukkan Kritik ke Dalam Hati
Tulisan dikritik habis-habisan oleh PI (Principal Investigator) atau reviewer? Jangan sampai take it personally. Itu adalah proses wajib biar kualitas tulisan kita makin tajam.
Lucunya, PI yang paling hobi “mbantai” kita di ruang bimbingan justru sering kali jadi orang yang paling bikin kita berkembang pesat. Selain itu, berani menuliskan keterbatasan penelitian (limitations) juga bukan tanda kalau riset kita gagal. Itu justru bukti konkret kalau kita paham betul di mana batas kemampuan dan ruang lingkup kerja kita.
6. Disiplin yang Sunyi di Balik Mitos Momen “Eureka!”
Jangan pernah nunggu motivasi buat gerak. Motivasi itu sifatnya fluktuatif dan gampang hilang pas kita lagi capek-capeknya. Kuncinya ada di disiplin, ini nih yang sering kali underrated.
Disiplin emang kedengarannya sunyi, monoton, dan ngebosenin, tapi lewat rute itulah konsistensi bisa bertahan lama. Banyak orang bayangin S3 itu penuh dengan momen “Eureka!” yang keren kaya di film-film ilmuwan. Kenyataannya? Kebanyakan hari-hari kita diisi dengan ngebuka dokumen yang sama, benerin format tabel yang berantakan, atau ngedit satu caption gambar secara berulang-ulang.
7. Bersahabat dengan Kegagalan Eksperimen
Satu eksperimen yang gagal bisa langsung ngerusak kerja keras yang udah kita bangun berminggu-minggu. Mau gak mau, kita harus legawa buat mulai lagi dari nol. Frustrasi? Banget, sampai bikin stres dan mempertanyakan kemampuan diri.
Tapi dari siklus melelahkan itu, saya belajar satu hal penting: tujuannya bukan untuk selalu ngebuktiin kalau hipotesis kita bener, tapi gimana cara kita memahami masalah dengan lebih baik dari hari kemarin.
8. Tesis yang Baik Adalah Tesis yang Selesai
Tesis itu gak bakal pernah bener-bener “sempurna”. Selalu ada celah yang bisa dikritik, selalu ada sudut yang bisa diperbaiki. Tapi di satu titik, kita harus tahu kapan harus berhenti. Dia cuma harus siap buat dilepas dari tangan kita.
Inget mantra ini: tesis yang baik adalah tesis yang selesai. Gelar mungkin jadi bentuk formalitas untuk mengakui hasil risetnya, tapi proses berdarah-darah selama pengerjaannya itulah yang ngubah total mentalitas si peneliti.
Transformasi Identitas Baru
Awalnya, saya memulai perjalanan ini salah satunya ya karena alasan klise: pengen dapet gelar mentereng di depan nama. Tapi pas semuanya udah selesai, saya baru sadar kalau gelar Dr. rer. nat yang menempel sekarang justru adalah the least important thing I gained.
Versi kamu saat baru pertama kali menginjakkan kaki di dunia S3 dan versi kamu saat menyelesaikannya adalah dua pribadi yang sama sekali berbeda. Ini bukan cuma soal nambahnya isi kepala atau daftar publikasi, tapi soal nempa identitas dan karakter baru.
Buat temen-temen yang sekarang lagi berjuang di tengah lorong gelap, ngerasa stuck, atau kena imposter syndrome:
Progres itu gak selalu kelihatan mentereng atau langsung dapet tepuk tangan kok. Kadang, progres terbaik hari ini cuma sesederhana kamu mau bangun, buka laptop, dan nyoba lagi besok pagi.
Semoga sampai suatu hari nanti, kita bisa bertemu di persimpangan kalimat yang tadinya: “Saya lagi berjuang nyelesaiin PhD.” Berubah menjadi: “Saya udah jadi orang yang sanggup menyelesaikannya.”
Semangat dan sehat-sehat terus buat prosesmu, ya!
Braunschweig, 17.06.2026 (repost dari threads pribadi)
Leave a comments