Mensyukuri Nikmat

Nikmat, besar atau kecil, tetaplah nikmat. Hanya saja, yang kecil sering kali luput dari pandangan kita. Ia datang perlahan, menyapa dengan lembut, tapi sering tak kita sambut dengan rasa syukur yang sama.

Sudah lama rasanya tidak menulis di blog ini. Mungkin ini saat yang tepat untuk memulai lagi agar menjadi mengingat bahwa hal-hal kecil pun layak diabadikan.

Saya tumbuh di Kebumen, di tengah keluarga yang sederhana.Kami bukan yang kekurangan, tapi juga tidak sangat-sangat berlebih. Kalau sekarang, hidup sebagai masyarakat kelas tengah itu struggle-nya tidak sedikit, mereka tidak cukup miskin untuk dibantu, tapi juga tidak cukup kaya untuk hidup ongkang-ongkang. Misal ada sedikit saja kebijakan bodoh dari pemerintah, mereka segmen masyarakat pertama yang kena dampaknya. Dulu mungkin tidak serentan sekarang ya.

Kembali lagi ke konteks, karena tumbuh di kondisi “hanya” cukup, memiliki mobil adalah kemewahan yang tidak saya punya. Saya masih ingat gimana senangnya ketika diajak naik mobil. Mungkin dari situ, sampai dewasa pun saya memiliki kesan bahwa punya mobil itu suatu kemewahan.

Waktu tinggal di Dresden, lalu pindah Braunschweig, keinginan itu sering muncul dalam obrolan sama Tyas. “Kayaknya enak ya kalau punya mobil.” Misal saat ke IKEA, yang letaknya selalu jauh dari pusat kota. Ya meski transportasi umum di Jerman memang bagus, tapi kalau sudah malam, frekuensinya makin jarang dan butuh waktu lama untuk sampai rumah karena waktu tunggu.

Setelah Haffa lahir, kami ingin membuat banyak kenangan sama bocil. Banyak tempat indah di Jerman dan sekitar yang akan lebih mudah dijangkau dengan mobil, misal seperti landscape di Swiss, Norway, dll.

Akhirnya kami sepakat: saya akan ambil SIM.Di Jerman, untuk dapat SIM ini tidak mudah. Ada 14 kelas teori, 1.300 soal yang harus dipelajari, dan 46 jam praktik di jalan yang harus saya lalui. Biayanya juga tidak sedikit. Bisa dilihat di Reddit banyak yang bilang habis 5.000 euro, sekitar seratus juta rupiah. Saya tidak sampai sebanyak itu, tapi tetap saja rasanya nyebelin karena jumlahmya tetap banyak untuk kondisi finansial kami yang sekarang. Prosesnya pun tidak sebentar, hampir 11 bulan.

Long story short, ketika SIM sudah di tangan, kami mulai berhitung. Apakah saat ini waktunya membeli mobil, atau cukup menunda dulu dan ambil opsi menyewa. Kami lihat lagi catatan finansial: dana darurat, pendidikan, rumah, haji, pensiun… setelah dihitung-hitung, ternyata lebih bijak jika menunda membeli.

Beruntungnya, bekerja di VW Group ada kemudahan yaitu saya bisa ambil program leasing khusus karyawan. Bisa dapat mobil baru untuk dipakai selama 6 atau 12 bulan dengan biaya terjangkau. Akhirnya, saya memilih VW T-Cross. Mobil baru, tapi ringan di biaya.

Alhamdulillah. Mungkin ini bukan hal besar bagi sebagian orang, tapi bagi kami, ini adalah satu tanda spesial dari perjalanan hidup.

Dan menulis begini membuat saya teringat, bahwa kita tak punya banyak cara selain terus berdoa, dan bersyukur.

Atas yang banyak, juga atas yang sedikit. Atas yang datang dengan mudah, juga yang butuh perjuangan panjang. Semoga hati ini tak pernah lupa memandang kecilnya nikmat dengan rasa yang besar.

Braunschweig, 16.11.2025

Leave a Comment