Kebetulan sedang diperjalanan menuju Berlin hari ini, saya punya sedikit waktu luang untuk menulis. Entah kenapa, pikiran saya kembali ke masa ketika memutuskan untuk menempuh studi doktoral. Sebuah keputusan yang, kalau boleh jujur, tidak sepenuhnya didasari idealisme.
Sebagian karena ratusan lamaran kerja saya pasca lulus master tidak membuahkan hasil. Sebagian lagi karena memang ada keinginan pribadi untuk menempuh PhD di suatu saat di hidup saya. Melihat ke belakang, saya menyadari bahwa ada beberapa “biaya tersembunyi” yang dulu tidak saya pertimbangkan secara matang.
Berikut beberapa di antaranya.
1. Komitmen Waktu
PhD bukan proses singkat. Di banyak negara, durasinya bisa 4–5 tahun. Bahkan bisa lebih lama tergantung keputusan pembimbing. Ada yang selesai dalam 2.5 tahun, tapi kasus seperti ini sangat langka (saya sangat beruntung selesai dalam waktu 2 tahun 3 bulan😉).
Dalam rentang waktu yang sama, rekan-rekan yang bekerja di industri sudah naik tangga karier, sebagian menjadi manajer, bahkan ada yang mulai membangun bisnis. Sementara mahasiswa PhD sering kali masih berkutat dengan eksperimen atau revisi paper yang tak kunjung selesai.
2. Biaya Kesempatan (Opportunity Cost)
Ketika mahasiswa PhD menghabiskan hari-harinya di lab atau menulis disertasi, teman-teman seangkatannya sudah membangun jaringan profesional, mendapatkan promosi ke senior atau bahkan team lead, bahkan sebagian sudah mapan secara finansial.
Yang menyebalkan adalah ketika setelah lulus PhD dan masuk ke dunia industri, kita tetap dianggap entry level. Gelar doktor ternyata tidak otomatis mengangkat posisi, apalagi di sektor swasta yang belum terbiasa merekrut lulusan PhD.
3. Terbatasnya Pilihan Karier Akademik
PhD memang tidak harus berakhir di dunia akademik, tapi landscape di industri di Indonesia masih sangat jarang merekrut lulusan PhD. Jika pun ingin menjadi dosen, realitasnya di Indonesia tidak selalu menjanjikan. Mulai dari kesejahteraan, beban kerja, hingga birokrasi yang melelahkan.
Kalau ingin berkarier akademik di luar negeri, persaingannya jauh lebih ketat. Biasanya harus melewati satu atau dua kali masa postdoc, yang artinya harus pindah kota atau negara. Ini juga sebuah tantangan tersendiri, apalagi bagi yang sudah berkeluarga.
4. Penghasilan yang Tidak Selalu Kompetitif
Isu ini cukup sering dibahas belakangan ini, terutama di media sosial profesional seperti LinkedIn. Banyak lulusan PhD yang merasa penghasilan mereka tidak mencerminkan tingkat pendidikan yang telah ditempuh.
Di beberapa negara seperti Inggris, gaji lulusan PhD bisa setara atau bahkan di bawah lulusan S1 atau S2 yang bekerja di industri teknologi atau keuangan. Dari perspektif ini, wajar jika banyak orang bertanya: apakah benar gelar PhD sepadan dengan perjuangan panjangnya?
5. Kesehatan Mental
Hmmm. Ini realita yang tidak bisa diabaikan. Tekanan untuk publikasi, hubungan dengan pembimbing yang tidak selalu sehat, isolasi sosial, hingga beban kerja yang tinggi, semuanya bisa berdampak pada kesehatan mental mahasiswa PhD.
Tidak sedikit yang mengalami burnout, gangguan kecemasan, atau bahkan memilih untuk tidak menyelesaikan studi. Meskipun tidak semua mengalami, tapi risiko ini nyata.
Saya ingat sekali waktu dulu melakukan pengukuran TEM waktu di Taiwan, operator bilang saya lebih baik tidak PhD di sana karena dia tahu ada orang yang sudah 8 tahun tapi belum lulus.
Outro
Saya menulis ini bukan untuk menyurutkan semangat siapa pun yang ingin mengambil PhD. Pengalaman saya ini saya harap bisa memberikan pelajaran, memperluas cara berpikir, dan membuka akses pada banyak hal ke orang lain yang sebelumnya tidak saya bayangkan.
Tapi saya juga percaya, kita perlu bersikap jujur. Karena setiap pilihan besar dalam hidup selalu datang dengan harga dan harga PhD sering kali lebih dari sekadar uang dan waktu.
Jadi kalau kamu sedang mempertimbangkan PhD, mungkin pertanyaan yang penting bukan hanya “apakah kamu mampu?”, tapi “apakah kamu siap membayar harganya?”
Magdeburg, 03.05.2025
Danke schön
…
Insightful tulisannya
sama sama ya! 😁