Saya kalau melihat istri, sampai detik ini masih terus belum bisa berkata-kata untuk soalan yang satu ini. Begitu besar pengorbanannya. Sekolah dari SD sampai kuliah, ditambah koas, dan internship. Dibesarkan orang tuanya, dimimpikan menjadi dokter, membuka praktik di desanya. Tapi ia memilih meninggalkan itu semua. Mengikuti suaminya di luar negeri, yang tentu tidak mudah. Kadang saya mendapatinya bersedih ketika melihat timeline Instagram. Teman kuliahnya ada yang sekolah spesialis, studi S2, kerja di rumah sakit.
Saya hanya bisa memeluknya. Menguatkannya. Meminta maaf.
Merasa ketinggalan itu memang perasaan yang tidak sederhana. Namun selama lajurmu adalah kebaikan, maka bersabarlah. Boleh jadi ini hanya ketertundaan untuk mendapatkan hal yang lebih baik. Kalau kamu lelah, berilah jeda sejenak pada hati.
Demikianlah hidup ini, sayang. Suamimu akan terus berada di sisimu. Mengarungi kehidupan ini. Semoga apa yang kamu ikthiarkan, apa yang kamu usahakan, akan Allah ganti dengan sesuatu yang indah pada akhirnya.
Münster, 11.10.2022