Spring semester hampir selesai, tinggal hitungan hari lagi. So far so good, alhamdulillah. Satu draft paper sudah selesai, tinggal dicorat-coret sama Prof bulan Januari nanti. Another research has to be done as well. Semoga memang bisa at least 3 paper sebelum lulus (master rasa PhD aja nih). Semester ini banyak cerita. Banyak banget yang ingin ditulis, tapi ada-ada aja yang bikin procrastionate.
Keputusan pindah asrama ke tempat yang lebih dekat dengan mushola seems worked well, though it is even more expensive. Selain bisa sholat jamaah 5 waktu, target riset juga lebih mudah tercapai karena jarak asrama yang sekarang lebih dekat dengan lab. Semester ini juga mulai meraba-raba langkah untuk ke depan. Either PhD or work semua saya coba. Mungkin sudah puluhan aplikasi saya coba, termasuk di Tesla dan Microsoft. Ternyata masih belum rezeki juga. Sempat sih saat itu sampai tahap phone interview untuk kerja di Google tapi beberapa hari kemudian juga emailnya bertuliskan “unfortunately bla bla bla”. Aplikasi PhD di Karslurhe Institute of Techonology (KIT) dan ETH Swiss juga masih no reply. Kadang bikin insecure. Bertanya-tanya, am I not good enough? Ternyata perlu terus dihujamkan dalam hati bahwa it is just a matter of your expertise doesn’t match with the criteria. It is not about that you are not qualified. No, not at all. Lagi pula rezeki sudah diatur, batasan manusia ada diusahanya.
Menghitung hari sebelum pulang. Menyisakan beberapa hal yang perlu dipikirkan. Setiap mau pulang pasti mencari-cari hal apa yang harus bisa dibagikan ke teman-teman, ke adik-adik, terlebih ke keluarga. Berkaca ke belakang, alhamdulillah semester ini tingkat iman relatif meningkat (semoga Allah senantiasa memberikan iman yang kokoh lagi robust ke diri ini). Semangat menghafal jalan lagi. Hal ini tidak terlepas dari ceramah-ceramah Ust. Adi Hidayat. Bahkan sampai bermimpi bertemu beliau, kemudian saya yang menyediakan air untuk keperluan mandi beliau. Sampai saya kepikiran setelah selesai pendidikan S2 ini, saya ambil 1 bulan untuk mondok mengambil kelas menghafal Quran di program At-Taisir Ust. Adi Hidayat. May Allah guide me.
Juga efek dari progress teman yang sampai sekarang sudah hafal 20-an juz setelah mondok selama kurang lebih 1 tahun. Saya nggak boleh kalah dong. Ikhtiar tipis-tipis tidak masalah, yang penting terus progress. Bicara tentang teman saya yang satu ini tidak akan ada selesainya. Saya kagum dengan keputusan dia untuk mondok setelah selesai S1, di mana kebanyakan orang berpikir kerja atau lanjut S2. Ternyata memang ujian orang yang memilih dekat dengan Allah boleh jadi lebih berat. Kala itu ada pesan WA masuk ke HP saya. Ternyata dari dia. Saya orang pertama yang dikabari tentang hal yang dialaminya. Belum pernah saya melihat dia serapuh itu. Mungkin benar bahwa seiring berlannya waktu, hanya Allah-lah yang bisa nge-heal sebenar-benar heal. Kelak saya akan melihat dia sebagai pribadi yang hafal Quran yang berdiri gagah di bumi Taiwan untuk mengenyam pendidikan Teknik Mesin di NCU. Ya! Dia diterima di NCU. Saya juga kaget melihat kemauannya kala itu. Saya bantu sedikit polesan CV, study plan, dan persyaratan lain. Ternyata Allah menggerakkan hati 2 Professor untuk bersedia menjadi pembimbingnya! Ah, bahagianya saya.
Saya juga masih kepikiran tentang teman-teman saya yang lain. Merasa bertanggung jawab atas kehidupan mereka, meski saya juga belum 100% selesai dengan diri sendiri. Beberapa masih bekerja namun tidak sesuai hati. Ada juga yang masih mau lanjut S2 tapi ragu-ragu. Ada yang sedang dalam proses pencarian pasangan hidup dan problematika kehidupan yang lain. Kepada yang terakhir itu, saya berikan nasihat bahwa sebelum seorang laki-laki menemui orang tua untuk menyampaikan niatnya, maka belum serius dia dalam menjalin hubungan. Jadi dianggap biasa aja. Disitu batasannya.
Kepada beberapa teman saya memilih hati-hati. Menjaga jarak karena diumur segini semua bakal bisa menjadi kompleks. I keep the distance eventhough I got my eye on them. Just purely like I feel I have responsibility to them karena hidup saya pernah beririsan dengan mereka di circle yang sangat dekat. Saya bermohon kepada Allah semoga semua lancar dan baik.
-Hsinchu, 27 Desember yang indah 2019