Selamat hari guru, salam takzim saya kepada semua guru di Indonesia. Mendengar kembali hymne guru sangat merefleksikan betapa besar jasa guru-guru bagi setiap insan yang tercerdaskan. Jujur saya senang melihat rentetan kebahagiaan teman-teman saya yang mengajar di sekolah melalui WA story. Entah, saya yang dulu sangat cuek untuk sekedar melihat story teman-teman kini menjadi rajin membukanya karena memang satu-satunya cara untuk update tentang kegiatan mereka pasca kampus ya hanya lewat WA/IG story.
Menempuh pendidikan S1 di jurusan keguruan menjadikan lingkaran saya sangat dekat dengan kegiatan belajar mengajar. Sempat terpikir oleh saya kala itu untuk kuliah di ITB mengambil jurusan teknik dan setelah lulus menjadi guru. Pikir saya keren kalau lulusan teknik menjadi guru, pasti logika berpikirnya lebih konstruktif. Kala itu saya terinspirasi dari Sabda (Founder Zenius).
Pun sampai sekarang saya masih berpikiran bahwa profesi guru itu mulia dan memiliki tempat yang sangat tinggi dibanding profesi yang lain. Ia tidak kalah dengan profesi semacam dokter, lawyer, dan profesi lain yang terkenal keren di society kita. Kemudian pertanyaan muncul, mengapa sekarang malah banting stir mengambil S2 di bidang teknik?
Marwah guru yang agung itu dibunuh oleh sistem yang ada di Indonesia. Ia yang begitu mulia malah dihinakan. Ini bermula dari sistem yang mempersiapkan calon guru LPTK (universitas yang memiliki fakultas keguruan/FKIP) yang membuka jurusan keguruan dalam jumlah yang sangat besar dengan kualitas yang dipertanyakan sehingga terjadi ketidak seimbangan antara supply and demand. Setiap tahun ada jutaan mahasiswa lulusan FKIP namun hanya ratusan vacant position untuk menjadi PNS. Mereka yang kalah oleh persaingan akan menjadi guru tidak tetap (GTT) atau guru di sekolah swasta. Harga keringat mereka Rp 300.000 per bulan. Penghasilan ini bahkan jauh dibawah UMR. Efek dominonya adalah dengan penghasilan yang amat minim ini harga guru di mata masyarakat menjadi jatuh. Sama sekali tidak ada wibawanya. Tidak seharusnya profesi ini dibunuh sedemikian rupa oleh sistem.
Sempat kala itu saya dilema. Di satu sisi saya tahu bahwa orang yang lahir tanpa privilege tidak akan bisa lepas dari kemiskinan tanpa pendidikan, namun sebagai calon kepala keluarga saya juga memikirkan kesehatan finansial keluarga yang akan saya bangun. Akhirnya saya bonsai keinginan untuk menjadi guru karena alasan tersebut. Mungkin bukan dengan menjadi guru peran yang akan saya emban, tapi kontribusi di bidang pendidikan harus tetap ada. Setidaknya itu ada dalam misi saya di masa depan.’
Saya melihat bahwa di Indonesia atau negara dunia ketiga, orang masih berkutat banting tulang mencari uang agar esok hari bisa makan. Less time to innovate and study. Meanwhile, orang Eropa/US atau negara maju lainnya bisa fokus berinovasi karena tidak ada rasa khawatir esok hari makan apa. Efek bedanya ada pada advancement of technology. Setidaknya ini yg saya simpulkan setelah 1 bulan d ujung NTT dan lebih dari 1 tahun d Taiwan.
Maksudnya, saya perlu menjamin dulu kebutuhan primer saya dan keluarga yang saya bangun kelak minimal ada pada level cukup. Dengan rasa aman itu kemudian bisa berinovasi dan menjalankan misi salah satunya misi di bidang pendidikan.
-Hsinchu, 26 November 2019