Apa kabar iman?

Pernahkah begitu nelangsa terbangun di kala adzan shubuh sudah berkumandang. Hilang sudah kesempatan untuk tunduk sujud bermesraan di sepertiga malam. Atau bahkan melewatkan subuh tepat waktu.

Ingat sekali dahulu saat S1, nikmatnya pagi selalu terasa karena ada lantunan adzan yang selalu hadir mengingatkan untuk menjemput kemenangan. Hal yang mahal dan tidak bisa ditemui ketika hidup di luar Indonesia.

Maka dari itu sejak semester 3 ini saya memutuskan pindah untuk tinggal di asrama di kampus Kuangfu di NCTU agar bisa terus berjamaah di musholla, terutama jamaah sholat subuh yang tidak bisa saya dapatkan ketika di asrama Boai. Sempat ragu mengingat biaya asrama hampir 2x lipat tapi teringat bahwa bagi sesiapa menolong agama Allah maka Allah akan perkenankan kemudahan baginya. Uang bisa dicari tapi kesempatan berjamaah bisa jadi tidak terulang dua kali.

Mulai semester ini sering ditunjuk sebagai imam sholat berjamaah. Merasa tidak pantas karena hafalan saya masih sangat sedikit dan apalagi makmumnya orang Timur Tengah yang notabene fasih berbahasa Arab. Saat saya tanya apakah mereka tahu makna setiap lantunan surat yang dibaca imam kemudian mereka jawab “definitely”.

Kadang saking geroginya sampai lupa urutan ayat seperti ketika melantunkan surat Maryam, atau bahkan surat Al-Bayyinah. Tapi dari mereka saya termotivasi untuk terus memurajaah dan sedikit-sedikit menambah hafalan. Setiap jumat saya mengikuti Tahsin untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an saya.

Dengan kultur yang berbeda, menjadikan saya dapat belajar latar belakang dan keadaan negara muslim di sana. Sangat bersyukur bahwa di Indonesia, kita masih bebas untuk beribadah. Hal yang tidak dapat ditemui di negara kelahiran Imam Bukhari di Uzbekistan sana. Atau ketentraman yang Indonesia miliki yang tidak ada di Palestina, Iran, dan Yaman. Dengan kenyamanan beribadah yang bisa kita dapatkan di Indonesia, harusnya sudah tidak ada alasan untuk dapat memiliki kualitas iman yang kokoh.

Pada akhir tulisan ini, saya ingin bermuhasabah terhadap diri ini.

Untukmu diri,

Sering-seringlah menanyakan apa kabar imanmu.

Sepanjang waktu, agar tidak semakin jauh dirimu tertinggal.

 

Hsinchu, 30 September 2019

Leave a Comment