Ilmuwan Ngartis

Menjadi pusat perhatian memang seperti mata pisau, memiliki sisi positif dan negatif. Saya kadang heran dengan kehidupan macam Atta dan Ricis. Betapa mereka bisa hidup dengan haters yang nyata-nyata hadir di kehidupan mereka. Mungkin ya, mereka berpegang teguh pada kalimat “don’t let the people define who you are”.

Keheranan saya juga masih melekat pada orang-orang itu dan orang-orang sejenis itu. Apa mereka tidak berfikir bahwa apa yang mereka lakukan mendatangkan lebih banyak mudharat kepada generasi muda. 35 juta generasi muda (-jumlah total subscriber keluarga Halilintar + Ria Ricis, yang mana sama dengan jumlah penduduk di Jawa Tengah-) yang kebanyakan adalah anak SMP, mereka racuni dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Apa faedahnya membeli mobil pakai uang receh satu truk atau memasukan 10.000 telur di kolam renang, sedang di luar sana masih banyak yang risau tidak tahu esok hari mau makan apa.

Thumbs up untuk orang semacam Gita Savitri dengan rubrik #beropini di youtube-nya. Menurut saya itu hal yang bagus untuk meng-counter konten (maaf) sampah milik Atta dan Ricis dkk.

Saya setuju dengan ide membumikan sains. Mencari cara bagaimana sains dapat diterima oleh masyarakat luas. Kalau cara-cara lama dipandang usang, mungkin bisa mengikuti tren yang milenial suka. Ilmuwan bukan berarti hanya sekedar publish paper atau spin-off hasil riset, tapi juga bagaimana mengenalkan profesinya kepada generasi muda. Sudah bukan rahasia bahwa hal-hal semacam ini yang tidak tersentuh oleh masyarakat luas karena memang tidak ada komunikator yang baik.

Diberitakan media, masuk koran, penggunaan IG dan YouTube oleh ilmuwan dan diaspora adalah bukan bentuk dari ngartis atau narsis. Saya melihat ini sebagai opsi yang bagus untuk mengenalkan sains beserta profesi yang berkaitan dengan sains kepada generasi muda sekalgius memerangi konten-konten sampah. Ini harus didukung, bukan malah dikecilkan.

Sudah seharusnya kita menjadi air putih. Mungkin bubble tea lebih enak dan menarik, tapi pada akhirnya mereka kembali lagi ke air putih. Maksudnya, mungkin orang bakal lebih tertarik dengan konten yang hura-hura seperti itu, tapi saya yakin kelak mereka akan berakhir juga di konten-konten edukatif.

===

Di tulis sebagai status facebook saya untuk mengcounter nyinyiran dari peneliti ke peneliti lain yang sedang berkembang untuk bangsa.

 

Leave a Comment