Sharing kali ini tentu tidak representatif seluruh NCTU, karena bahkan beda lab akan berbeda karena berbeda culture lab nya. Tapi mungkin bisa mewakili 85% gambaran di jurusan saya, Material Science and Engineering (MSE). Kalau dilihat dari Wikipedia, NCTU disebut “MIT from the East” jadi sistem di sini mencoba copy paste sistem dari sana. Bicara tentang MSE, Professor di sini bilang kalau MSE NCTU itu leading di Taiwan. Mungkin secara QS rank nomor 3, tapi dilihat publikasi jurnal top dunia seperti science dan nature tetap nomor 1.
Disini ekspektasinya semua mahasiswa itu pintar, jadi profesor selalu ngasih materi banyak banget dan terserah mahasiswa mau belajar sedalam apa (istilahnya Fire Hose Drinking). Jadi kuliahnya itu seperti minum dari firehose, airnya berlebihan, banyak, dan kencang. Padahal mahasiswa model saya butuh waktu untuk paham, jadi ya agak kerepotan juga (bukan agak sih, tapi sering. to be honest haha). Contoh mata kuliah semikonduktor kemarin, untuk basic saja belum matang, isi kuliahnya udah harus baca grafik dari paper yang tingkatannya advance. Jadi kalau mau tetap keep up memang harus pintar mengatur waktu (dan mengurangi waktu tidur)
Di MSE NCTU, etosnya Mind and Hand. Harus ahli di teori dan praktik. Dari semester pertama, khususnya di lab saya, harus punya hands-on experience untuk melakukan eksperimen. Misal di lab kami, saya harus bisa buat “resep” untuk katoda anoda baterai, pilih elektrolit yang tepat, cara “nempelin” resep itu, sampai tahap fabrikasi baterai, beserta analisis performanya.
Lanjut cerita lab saya, karena lab saya kerja sama dengan industrinya erat, jadi sebagai mahasiswanya Prof akan didaya gunakan. Datang pagi untuk kuliah, sore untuk eksperimen, malam untuk belajar sama baca paper. Belum kalau ada tugas dan group meeting serta personal meeting untuk progress report. Kadang saking banyaknya yang mau dikerjain sampai bingung sendiri mau duluan ngerjain yang mana. Kalau udah bingung gitu ya akhirnya buka YouTube dan liat Son Goku haha.
Oh ya untuk kuliah, kami harus tetep survive nilai di atas 82, karena itu berkaitan dengan beasiswa. Di bawah itu? Siap siap berpuasa Daud. Dan tipe professor di sini tidak bisa pakai jalan belakang misal sepik –sepik seperti di Indonesia. Jadi paham kan ada 2 tekanan, kuliah dan riset. Makanya banyak siswa yang tertekan di sini. Bahkan sampai ada fasilitas khusus “Mental and Health Center”.
Kadang karena kondisi kami yang seperti ini kami sering bercanda kalau lagi nonton bola, “eh liat tuh ada orang Indo nonton di stadion, pasti dia anak LPDP”. Kemudian kami ngakak bareng.
By the way, untuk aku pribadi seringnya berangkat jam 8.40 pulang jam 20.30, jadi ya 12 jam di kampus. Sampai asrama masih harus belajar materi buat kuliah, atau nugas, atau baca paper untuk group meeting, atau olah data hasil eksperimen. Tidur paling gasik jam 11 malam. Oooh, just realized my sleeping time is shifted. Kadang iri kalau dengar MSE di kampus lain untuk master tahun pertama tidak diharuskan eksperimen, karena juga tidak punya office.
Well, pada akhirnya saya ingin sampaikan bahwa dunia ini memang sementara, tapi mau tidak mau ya harus dijalani karena jalan yang kita lalui adalah pilihan Allah. Tinggal bagaimana cara kita dalam mengemban amanahnya.
Saya tutup dengan mantra : Work hard in silence let succes make the noise!