Relativitas

Jarak, waktu, kecepatan semuanya bersifat relatif.

Ketika kita bicara elektrokimia, jarak 10 cm bisa menjadi jarak yang tak terhingga bagi ion-ion untuk melintasinya. Ada pula jarak Matahari-Bumi 149 juta km yang sebegitu jauhnya menjadi hanya 8 menit untuk ditempuh oleh cahaya. Maka jarak itu relatif.

Waktu? Apabila penciptaan semesta ditinjau menjadi 12 bulan, revolusi industri terjadi sekitar 2 detik dari hari kiamat, artinya umurku dan umurmu mungkin hanya sepersekian ribu detik. Sebaliknya, kalau kita bicara tentang 1 detik, itu pun terlalu lama kalau kita ingin mengetahui bagaimana energi dari foton didistribusikan antara dua elektron di atom helium pada sesaat sebelum tereksitasi. Ya, waktu juga relatif.

Kecepatan pun demikian. Kita melihat orang yang berjalan santai di kereta ternyata telah menempuh jarak yang jauh ketika disaat yang bersamaan kita duduk termangu di motor sambil menunggu palang pintu terangkat. Sebaliknya, kecepatan Usain Bolt si manusia tercepat di dunia akan terasa lambat dibanding kecepatan cheetah yang mampu menempuh 70 mil/jam. Maka kecepatan juga relatif.

Setelah saya berkontemplasi, ada beberapa hal yang mutlak di dunia ini. Kebanyakan bersifat abstrak yang tidak kita sadari dan hanya berlaku bagi mereka yang percaya. Cinta misalnya. Kenapa ada faktor “percaya”? Karena cinta ini akan berlaku hanya bagi mereka yang saling percaya dan saling mencintai.

Namun hal ini masih-lah relatif. Cinta akan menjadi relatif apabila digantungkan oleh 2 pihak yang sama sama mortal. Tapi akan menjadi hal yang absolut ketika dipautkan ke Dzat Yang Maha Kekal. Hubungan manusia dengan Tuhan misalnya.

Dalam hadis yang diriwayatkan Muslim no 482,disampaikan bahwa tempat yang paling dekat antara hamba dengan Rabb adalah ketika ia bersujud. Ini absolut dan hanya berlaku bagi mereka yang percaya. Bagi orang yang tidak percaya maka hanya seperti dongeng malam. Jadi disitulah boundary conditionnya.

Kalau saya bayangkan, hadis ini membawa kita dalam keadaan distorsi ruang-waktu di mana setiap pinta kita akan seketika melangit, juga meski posisi kita di bumi akan seolah sangat dekat dengan Rabb kita seperti yang tertulis di Al Baqarah 186, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku…”

Maka semua menjadi absolut dan hanya berlaku bagi mereka yang percaya. Bukankah Allah sesuai prasangka hambaNya?

 

Hsinchu, 4 Januari 2019

Leave a Comment