Kalau kata pepatah Jawa, “Urip iku sawang sinawang”, artinya kadang kita memandang hidup orang lain sangat enak, padahal kita tidak tahu hal apa yang telah mereka perjuangkan atau kegagalan apa yang telah mereka rasakan.
Sudah sejak lama saya merindukan kontribusi nyata apa yang bisa saya perbuat untuk Indonesia. Jujur saya malu dengan mahasiswa yang dalam senyap mengajar ngaji untuk anak-anak, yang dalam sunyi membantu pemberdayaan masyarakat desa, yang dalam diam melakukan kegiatan sosial bagi orang lain meski sepenuhnya saya sadar betul bahwa peran orang akan berbeda-beda dengan jalan kontribusi yang berbeda-beda pula.
Dari awal saya memilih peran “intelektual” yang menjadikan saya sedikit terasing dengan dunia sosial ataupun pengabdian masyarakat. Jalan yang saya pilih ini tentunya tidak akan saya sesali, tapi kadang saya merindui untuk melakukan apa yang bisa saya beri bagi orang banyak.
Beruntung saya bergabung dengan keluarga Baktinusa. Melalui program Marching for Boundary saya berkesempatan melihat sisi lain dari Indonesia. Saya ditempatkan di perbatasan Indonesia-Timor Leste. Tepatnya di Betun, Kabupaten Malaka yang merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Belu. Dengan adanya program ini, bukan berarti saya yang paling tahu tentang Indonesia, justru saya yang banyak belajar dari program ini.
Misi utama kami untuk berkontribusi di bidang pendidikan karena di daerah ini juga telah terinisiasi Sekolah Literasi Indonesia (SLI) dari Dompet Dhuafa. Sejak awal kami sudah bersiap dengan melakukan penggalangan dana yang alhamdulillah terkumpul sekitar 2 juta. Uang ini kami gunakan setengahnya untuk membeli buku dan setengah sisanya untuk membangun taman baca.
Kami di tempatkan di MI dan MTs Al Qadr. Satu-satunya sekolah islam di Kabupaten Malaka. Karena itu kebanyakan siswa yang sekolah di daerah ini bukan lah penduduk asli, tapi mereka adalah pendatang. Kebanyakan dari Bugis, Bima (NTB), dan Jawa.
Hidup di Betun memang tidak begitu buruk. Listrik sudah 24 jam, sinyal 4G, air banyak, ada ATM, bahkan JNE dan Kantor Pos juga sudah ada. Hanya saja saya bermasalah dengan kualitas air. Kulit saya tidak begitu cocok dengan air di daerah sini. Kulit saya gatal-gatal bahkan hampir di kedua kaki timbul bintik-bintik. Beruntung, puskesmas dan apotek juga sudah ada di Betun ini.
Saya menulis tulisan ini diakhir masa penempatan. Melalui puluhan hari di sini membuat saya banyak belajar. Bagi kita, uang 400 ribu tidak lah cukup untuk hidup satu bulan. Tapi uang sejumlah itulah yang menjadi penghasilan para guru di MI dan MTs Al Qadr. Saya rasa kalau hitung-hitungan manusia uang 400 ribu tidak akan cukup untuk bisa hidup, terlebih sebagian dari mereka sudah berkeluarga. Apalagi harga satu porsi makan sangat mahal. Sebagai gambaran, untuk makan ayam dan nasi saja kami perlu merogoh kocek 25 ribu, itupun belum termasuk minum. Mahal sekali ya…
Ternyata Allah yang cukupkan rezeki mereka. Yang sedikit apabila di syukuri ternyata akan menimbulkan keberkahan yang luar biasa, yang pada akhirnya uang yang sedikit itu pasti akan selalu cukup. Saya lihat betul mereka sangat ikhlas dalam mengajar meski dalam kompetensi mengajar masih banyak yang perlu diperbaiki.
Saya belajar dari salah satu pengajar di sana yang biasa kami panggil Ustadz Muhammad. “Saya ini orang yang simpel mas, yang penting saya bisa makan hari ini dan bisa menyalurkan ilmu saya. Perihal besok mau makan apa itu saya serahkan ke Allah, insyaAllah kalau soal rezeki saya tidak ada takut kekurangan. Karena saya punya Allah yang Maha Kaya. Yang penting saya bisa mengajar dengan ikhlas” kata beliau.
Selanjutnya saya belajar dari Bang Bahar, begitu saya biasa memanggil dia. Setamat SMA memutuskan untuk berdagang. Level kedermawanannya luar biasa tinggi. Dia yang paling royal mentraktir kita makan selama di Betun. Orang menyebutnya “bank berjalan”. Sedekahnya tak pernah berhenti. Di suatu saat ketika kami mencari sapi untuk persiapan Idul Adha dia bercerita “Saya ini sudah mulai qurban sejak kelas 3 SMA. InsyaAllah kalau sudah ada kemauan, Allah akan mudahkan. Sampai sekarang tidak pernah putus qurban. Alhamdulillah”. Mendengar kata-kata itu saya malu. Beliau saat kelas 3 saja sudah berpikir seperti itu, sedangkan saya… Ah semoga Allah berkenan memberi kesempatan bagi saya untuk memperbaiki diri.
Pada akhirnya saya teringat kata-kata dari Mas Budiyanto saat pembekalan MFB di Bogor. “Waktu 1 bulan bukanlah pengabdian karena untuk benar-benar mengabdi diperlukan waktu minimal 3 tahun untuk melihat hasilnya. 1 bulan ini sebenarnya adalah waktu ujian bagi kalian masing-masing. Mungkin di kampus kalian masih bisa trial & error. Mungkin di kampus kalian masih dalam lingkungan yang baik dan kondusif. Sedangkan di masyarakat semua akan berbeda. Mereka adalah hakim yang paling jujur. Maka, waktu 1 bulan di daerah terluar ini adalah suatu bentuk ujian bagi kalian. Apakah kebaikan-kebaikan yang kalian perbuat di kampus masih bisa dipertahankan di daerah penempatan? Apakah kualitas ibadah kalian yang mungkin tinggi di kampus masih bisa dipertahankan di daerah penempatan? Maka di sini bukan masyarakat yang akan belajar dari kalian, tapi kalianlah yang akan belajar dari masyarakat”.
Beberapa dokumentasi
Last but not least, saya sangat berterimakasih dengan adanya program ini saya banyak sekali belajar tentang kehidupan. Terimakasih Baktinusa, terimakasih Dompet Dhuafa.
Bentun, 9 Agustus 2018
Egy Adhitama (PM Baktinusa 7)