Gagal dan Kecewa

“The moment we understand that Allah’s decision is always in our best interest, everything will start to make sense”

Tulisan ini berangkat dari pelarian saya akan kebisingan dunia luar. Tulisan ini juga berdasarkan kontemplasi saya belakangan ini. Beberapa minggu lalu saya mengisi pelatihan karya tulis yang diselenggarakan SIM. Saya banyak menekan bahwa kerjakan saja apa yang bisa dikerjakan sekarang, hasilnya biarlah menjadi urusan Allah.  Terkadang kita terlalu banyak pikir untuk sesuatu yang sebenarnya mudah. Kita terlalu banyak menerka-nerka ini dan itu, padahal boleh jadi itu hanya ketakutan semata.

Saat sesi tanya jawab ada peserta yang bertanya, “Sebenarnya apa tujuan yang diinginkan mas egy, kok bisa sampai mawapres dan diterima baktinusa?”. Saya diam sejenak. Saya sadar bahwa untuk menjawab pertanyaan ini tidak bisa selesai dalam satu  dua jam. Pertanyaan ini sepaket dengan “Apakah mas egy pernah mengalami kegagalan yang benar-benar gagal?”.

Bagi saya gagal adalah sebuah hasil usaha, sedangkan kecewa adalah sebuah rasa. Saya pernah gagal masuk PTN idaman, dan rasa kecewa muncul dengan dahsyatnya karena posisi saya adalah menjadi satu-satunya yang gagal diantara teman dekat saya, dan saat itu saya berada di Bandung (jauh dari orang tua). Perasaan itu bersemayam dan berkecamuk apalagi ketika 7 teman saya pulang dan saya masih harus tetap di Bandung utnuk persiapan SBMPTN.

Tapi saya percaya bahwa Allah tidak akan meninggalkan hambaNya sendirian. Dan saya meyakini bahwa seorang muslim itu selalu punya cara sendiri untuk menata hatinya. Saat kecewa hadir dalam perjalanan hidupnya, ia akan kuatkan imannya. Karena kecewa itu rasa, yang letaknya pun sama dalam hati kita, tentu kuatnya iman dapat menutupi secercah lubang kecewa yang terukir disana. Karena hatinya selalu mengilhami, bahwa apa yang sudah Allah beri, adalah yang terbaik dibandingkan skenario diri.

Ternyata benar kata orang Jawa, Gusti Allah mboten sare. Allah tidak pernah tidur. Dia menguatkanku dengan perantara orang-orang terdekatku. Support mengalir dari kerabat dekat dan kita tahu bahwa dititik nadir, penyemangat dari orang terdekat sangat powerful untuk mengangkat mental kita.

Jika iman itu artinya percaya, lalu pertanyaannya, sudah sejauh mana kita percaya akan ketetapan-Nya? Sedangkan maut, rezeki dan jodoh sudah dituliskan oleh-Nya jauh sebelum kita lahir ke dunia. Maka apa yang kita terima tak akan berkurang atau bertambah karena manusia. Besaran yang didapat tentulah sudah sesuai dengan takaran-Nya. Lalu dimanakah letak iman (percaya) pada-Nya saat kecewa terus bergelayut dalam dada dan terus menggerutui ketetapan-Nya?

Saya terus menekankan ke audiens bahwa boleh jadi kita tidak tahu dimana rezeki kita, tapi satu yang pasti, rezeki kita pasti tau dimana kita berada. Rezeki tidak akan tertukar. Kecewa itu boleh saja, sangat manusiawi kehadirannya. Namanya juga perihal hati, ga bisa dibohongi. Hadirnya ga bisa dibuat-buat atau dengan mudahnya diusir pergi. Perlu iman yang menghias hati dan taqwa yang menghias diri. Sikap kita menghadapi kecewa yang menjadi poin utamanya disini. Memilih menggerutu sepanjang hari, menyesali ketetapan yang sudah dituliskan Ilahi, marah dengan apa yang terjadi, atau terus mencoba menata hati. Bukankah luas nikmat-Nya jauh lebih banyak dari apa yang kita minta. Bukankah pengetahuan-Nya jauh lebih luas dari apa yang terekam indera. Maka disitulah alasn kenapa tawakkal perlu selalu disertakan dalam setiap ikhtiar. Karena apa yang diketahui oleh seorang hamba, jauuuh lebih sedikit dibandingkan dengan pengetahuan-Nya.

Singkat cerita, SBMPTN pun saya belum dikasih PTN itu. Dan disinilah saya, di UNS. RahasiaNya seolah terbuka satu per satu. Saya mendapat lingkungan yang aman (kesyukuran terbesar saya kuliah di UNS ya karena ini, coba kalau di “sana”, pasti bawaannya pengen nikah muda), juara karya tulis. juara artikel, bisa mengikuti international conference, bisa naik pesawat, bisa jd ketua panitia event nasional, mawapres fkip, mawapres 3 uns, diterima PPA 2x, diterima baktnusa, bisa PPL di luar negeri dan yang tak kalah penting dengan rezeki yang saya dapat, saya bisa sharing ilmu dengan teman-teman dan adik adik di UNS. Bukan membangga diri, hanya di titik ini memang kita perlu melihat kebelakang untuk menyadari bahwa kasih Allah memang tiada putus kepada hambaNya.

Tulisan ini pun reminder bagi saya. Agar iman tak menjadi sekedar kata. Namun kehadirannya mengilhami gerak langkah diri dalam kesehariannya. Semoga Allah jadikan kita sebagai bagian dari orang-orang yang mampu menghapus kecewa dengan taqwa dalam hatinya, selalu bersyukur atas setiap ketetapan yang dituliskan oleh-Nya di dunia, menjadi pemberat amal untuk menuju surga.

Surakarta, 21 April 2017

===

Beberapa dokumentasi

===

(artikel ini terinspirasi dari tulisan mbak dewi, jadi maaf kalau ada beberapa kata yang saya sadur ya mbak 🙂 https://dewinaisyah.wordpress.com/2017/03/03/antara-kecewa-dan-iman-kita/)

3 Comments

  1. foto SUPERCAMP naha ya ndak ada? he

  2. SNPR's avatar SNPR says:

    Assalamualaikum
    hari ini saya baru mulai membaca tulisan mas egy dari awal post, dan di tulisan ini saya mulai timbul pertanyaan dari sekian banyak pertanyaan yang sebenarnya muncul di setiap saya membaca post mas egy, saya memilih menanyakan ini. Dunia ini ada orang yang berhasil namun ada juga yang belum berhasil meraih apa yang mereka mau dan sebagian dari mereka pun beranggapan bahwa orang yang sudah sukses dengan segala keberhasilannya adalah karena memang mereka ditakdirkan dari lahir mempunyai kemampuan yang lebih mungkin seperti lebih pintar, mudah baginya menerima informasi baru, mungkin juga mudah bergaul karena karakternya yang dari sananya memang mudah dan menyenangkan. namun bagi orang yang belum berhasil meraih apa yang ia inginkan ia beranggapan bahwa ia jauh lebih sulit meraih impiannya karena ia tak seberuntung orang lain yang punya kapasitas otak dan mental keberanian yang lebih.
    menurut mas egy menyikapi hal seperti ini bagaimana?
    maaf jika comments saya terlalu panjang dan mungkin terkesan berlebihan.
    terima kasih sebelumnya

  3. egyadhitama's avatar egyadhitama says:

    Waalaikumsalam SNPR 🙂

    Terimakasih ya udh mau baca tulisan2 aku, really appreciate it. Takdir itu ada yang udah paten dan ada yg masih bisa diikhtiarkan. Contoh yg paten spt umur dan kematian. Contoh lain spt hidung utk mencium aroma, telinga utk mendengar dan mata utk melihat. Itu semua udh paten, jd ga bisa ditawar tawar misal hidung utk makan atau telinga utk mencium aroma dsb hehe.

    Kalau soal sukses dan g sukses memang sec garis udh dituliskan Allah. Tapi kita bisa mengubahnya dengan ikhtiar. Jadi bukan tindakan yang bijak kalau kita menyerah dengan keadaan. Bukankah Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sblm kaum itu mengubah nasibnya sendiri?

    Kalau aku bilang si, terkadang kita hanya melihat sisi luar kesuksesan orang. Padahal kt tidak tahu apa yg sdh ia korbankan, brp lama waktu yg dia gunakan, brp kali dia gagal, brp banyak uang yg digunakan sampai dia ada dititik sukses.

    Banyak orang yang berhenti berusaha saat ia menghitung kans atau peluangnya kecil.
    Padahal hidup ini indah karena banyak orang yang kansnya kecil tapi ia tegar dan tidak berhenti berusaha.

    Contohnya Michael Faraday. Dia anak pandai besi. Di saat orang sekolah, ia harus bekerja sebagai tukang penjilid buku, sehari hari di saat orang belajar sains, ia sibuk bekerja menjahit mengelem buku. Kans Faraday untuk maju kecil. Tapi ia tetap berusaha. Dunia mencatat, Michael Faraday menutup karir sebagai Professor di Royal Institute, London. 🙂

    Jangan pedulikan kans kita.
    Teruslah berlajar dan berikhtiar.
    Ingat Michael Faraday. Tak perlu risau dimana kita memulai karier kita. Tapi tetaplah berdoa, kita akan menutup karir singkat kita di bumi ini dengan sejarah yang baik dan menginspirasi banyak orang yang kans dan peluangnya kecil. So, semangat ya SNPR!

    -Egy A

Leave a Comment