Inspirasi memang bisa datang dari mana saja. Hari ini saya belajar dari sosok Pak Sunardi. Kecil perawakannya, keriput kulitnya, agak bergetar suaranya, menandakan bahwa beliau sudah kenyang pengalaman hidup. Saya sebenarnya sudah mengetahui beliau sejak lama, alhamdulillah qadarrullah dipertemukan untuk ngobrol selepas sholat dzuhur di Masjid Al-Manar. Kejadian ini pun tidak diskenariokan. Hanya selepas sholat kami bersalaman dan bersambung cerita hampir 2 jam. Mungkin itu cara Allah untuk menunjukkan petunjukNya.
FLC, terlalu manis
Perjalanan saya ke malang kali ini disertai dengan perasaan campur aduk. FLC 2018 telah usai dan secara resmi kepanitiaan pun telah dibubarkan.
Saya banyak belajar di kepanitiaan ini. Dulu sebenarnya saya memiliki pilihan untuk mundur, tapi mengingat kembali bahwa ini adalah peran peran untuk keumatan maka mundur bukanlah pilihan.
Keluarga sebagai Poros Pendidikan
Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei ini perlu disikapi dengan merefleksi keberjalanan arah pendidikan kita saat ini. Dewasa ini, keberadaan sekolah formal nampak begitu menjajah Indonesia. Sekolah seolah menjadi solusi tunggal untuk membentuk karakter anak. Wajib belajar yang dicanangkan pemerintah tereduksi maknanya menjadi wajib sekolah. Hal ini tentu berbahaya mengingat besarnya potensi overschooling.
Graduation Speech
Pada saatnya setiap perjuangan akan menemui ujungnya. 28 April 2018, saya akan melepas status saya sebagai mahasiswa S1 UNS. Sengaja saya pos speech yang saya buat di blog meski bukan saya yang mewakili mahasiswa untuk sambutan saat wisuda (padahal udah nunggu undangan dari akademik pusat haha).
Kepercayaan
Pada beberapa hal dalam hidup ini, mungkin kita harus salah dulu, baru belajar. Agak samar tapi saya masih ingat beberapa detil kejadian saat itu. Ceritanya saya sudah menyanggupi janjian dengan dosen, tapi karena suatu keadaan saya datang telat beberapa menit. Singkat cerita dosen tersebut bilang dengan nada sangat tinggi “Anda tidak akan dihargai apabila tidak tepat waktu”.
Seperti Nelayan
3 tahun 8 bulan waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan kuliah sarjana saya. Relatif cepat, tapi diimbangi dengan beban yang berat pula. Kenapa? Karena dosen saya menargetkan jurnal internasional. Maka dari itu skripsi saya dipermudah oleh beliau.
Prinsip
Ada satu kaidah yang saya terapkan: menyelamatkan hati dan kemuliaan lebih utama dari menjaga perasaan seorang teman (baca dulu sampai akhir ya). Prinsip ini bukan hal yang datang dengan tiba-tiba. Setelah 21 tahun hidup, saya mengalami banyak asam garam kehidupan, termasuk soal hubungan dengan lawan jenis.
Kebaikan dalam Sunyi
Jam menunjukan pukul 3 sore dan saya bergegas menuju masjid Al Manar di belakang kampus UNS untuk menunaikan sholat ashar. Rasa dongkol masih menggelora karena respon negatif dari bapak-bapak bagian umkap di salah satu gedung di UNS. Saya datang dengan baik-baik eh malah responnya begitu. Batin saya menggumam kenapa sih masih ada manusia yang tidak bisa ramah sedikit saja.
Hilang
Akhirnya saya memutuskan menjadi inactive user di instagram kemarin. Belakangan saya mempertimbangkan nampaknya lebih tenang kalau hidup tanpa diketahui orang banyak. Ternyata dunia yang tenang itu pernah saya dapatkan saat saya SMP. Kala itu saya bukan aktivis, bukan orang terkenal, pintar pun tidak (menengah saja), tubuhnya kecil dan bocah sekali, menjadikan saya siswa yang biasa-biasa saja. Sangat biasa-biasa saja. Beda seperti ketika saya duduk di bangku SD yang seolah saya adalah superstar. Beda juga ketika SMA di mana saya adalah petinggi organisasi wajib (pramuka). Semua orang mengetahui saya
Why does unemployment rate in Indonesia is still high?
Go to college, earn a degree, and get a job: this has been the prescribed journey for every generation in Indonesia. First of all, we have to answer “does college prepare students for the real world?”