Hari lebaran ini seperti biasanya saya menuju Ambal tempat kerabat dari keluarga Bapak. Ambal ini terletak di daerah selatan Kebumen. Sangat dekat dengan laut, paling 1 km kalau dari rumah saudara. Terkenal juga dengan sate ambal. Kapan-kapan kita berdua makan di sini ya(?). Oh ya, Ambal ini masih tergolong kecamatan yang nuansa desanya masih kental sekali.
Kontemplasi
Beberapa hari ini saya berkontemplasi mengenai banyak hal. Rasanya banyak hal bergelayut di kepala. Tapi setelah dirunut ternyata semua yang bergentayangan dipikiran ini menuju pada satu muara, masa depan. Saya termasuk orang yang well-prepared. Segala sesuatunya saya siapkan untuk memastikan kedepannya OK, karena bagi saya ketika kita tidak menyiapkan keberhasilan, itu artinya kita sedang menyiapkan kegagalan.
Kriteria Pemimpin (SIM) yang Ideal
“…….. jabatan adalah amanah, ia pada hari kiamat akan menjadikan yang meyandangnya hina dan menyesal kecuali yang mengambilnya dengan benar (bihaqqiha) dan menunaikan tugasnya dengan baik.” Nasehat Rasulullah kepada Abu Dzar al-Ghifari yang meminta jabatan kepada beliau.
Belajar Riset

Disclaimer: Saya penuh menyadari bahwa perjalanan (pembelajaran) hidup saya bukanlah seberapa. Apalah saya. Hanya seorang fakir ilmu yang terus berusaha menggapai ridho-Nya. Saya mencoba menuliskan sepenggal perjalanan S1 saya, sebuah jalan yang saya pilih untuk menjadikannya muara kebermanfaatan untuk sesama
Belajar Dari Robi

Tulisan ini berangkat dari semangat saya untuk terus belajar. Belajar apapun dan dari siapapun. Hingga titik-titik dalam hidup ini menghubungkan saya untuk menjadi salah satu penerima manfaat beasiswa Baktinusa. Bertemu orang baru membuat saya bersemangat untuk belajar dari mereka karena saya yakin setiap orang pasti memiliki cerita hebatnya masing-masing.
Gagal dan Kecewa
“The moment we understand that Allah’s decision is always in our best interest, everything will start to make sense”
Tulisan ini berangkat dari pelarian saya akan kebisingan dunia luar. Tulisan ini juga berdasarkan kontemplasi saya belakangan ini. Beberapa minggu lalu saya mengisi pelatihan karya tulis yang diselenggarakan SIM. Saya banyak menekan bahwa kerjakan saja apa yang bisa dikerjakan sekarang, hasilnya biarlah menjadi urusan Allah. Terkadang kita terlalu banyak pikir untuk sesuatu yang sebenarnya mudah. Kita terlalu banyak menerka-nerka ini dan itu, padahal boleh jadi itu hanya ketakutan semata.
Be Flexible
Tak terasa diri ini pernah memberi sambutan di depan WR3 dan para doktor, pernah presentasi di International Conference, pernah diajak makan oleh WD3, pernah menjadi mawapres, pernah uji publik, pernah diskusi dengan staf ahli rektor dan pernah-pernah yang lain.
Pada suatu waktu, ada temen kelas saya yang baru berkenalan dengan seseorang yang mengenal saya. Biar gampang, teman kelas kita sebut X dan seseorang kita sebut Y. Setelah ngobrol lebih jauh, si Y bilang ke X “oh berarti kamu kenal Egy ya, dia itu keren banget, kalau ngomong di depan umum kharismanya keluar banget”
Singkat cerita si X ini cerita kepada saya apa yang dikatakan Y sambil ketawa-ketawa. Dari kejadian diatas dapat diambil pelajaran hidup lho. Kita sebagai generasi milenial memiliki ciri khas flexible. Alhamdulillah saya memilikinya. Saya tidak gemetar berbicara di high level forum, namun juga ndak canggung untuk bergaul dengan teman-teman (bahkan bertingkah bodoh dan konyol haha). Be flexible dan contextual adalah syarat menghadapi perubahan
Kotak-kotak
Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi – Salim A Fillah
3 tahun ini banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan, termasuk nilai-nilai kehidupan. Aku mengamati bahwa ada satu kecenderungan yang tidak baik apabila kita berada di lingkungan yang baik (lho?). Coba kita renungkan, pasti kita sering sekali menilai orang lain dengan standard yang kita rumuskan.
Upgrading SIM 2017

Arti Komitmen dan Kompetensi
Dalam Islam dibenarkan untuk membuat perjanjian atau aqad antara seseorang atau kelompok tertentu. Bahkan, tidak menepati janji termasuk tanda tanda orang munafik. Jangan kira perjanjian haruslah dituliskan sebuah MoU atau berkas bermaterai. Karena bagaimanapun kita tuliskan ataupun tidak, malaikat raqib dan atid akan tetap mencatatnya sebagai hal yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Inilah bedanya orang yang secara formal menjalankan amanah lembaga dengan orang yang memiliki sifat insiatif dan visioner yang menjadikan lembaga sebagai ruang belajar.
Harapan dan Ilmu
Libur telah usai. Kini aku berada di semester 6 yang artinya sudah memasuki jenjang Top Leader dalam sebuah organisasi/lembaga. Masa-masa sekarang adalah saat setiap lembaga memburu penerus perjuangannya. Hidup dalam sebuah lembaga memang sangat ditentukan oleh proses kaderisasi sejak dini. Kaderisasi dalam pandangan saya berarti mengajak setiap ‘calon korban’ ke dalam lingkaran kebaikan. Lingkaran ini nantinya akan menjadi rumah kedua mereka di kampus. Lingkaran yang akan menuntut setiap syaraf otak untuk tersulut idenya memecahkan setiap tatangan dan dinamika lembaga.